TRIANGLE LOVES – [BAB 6]

[Yoona Part]

Sinar matahari masuk ke dalam jendela kamarku dan membuatku terbangun. Aku masih mengenakan pakaian semalam.

Chansung?

                Aku berlari ke ruang tamu untuk mencari Chansung tapi tidak menemukannya. Mungkin Chansung sudah pulang. Aku kembali ke kamarku. Melihat figura foto yang kupeluk semalam. Foto yang diambil ketika hari jadi terakhir kami sebelum kami putus. Saat itu, Junho datang membawakan kue tart ke apartemenku dan kami merayakannya semalaman. Tadi malam, aku tiba-tiba teringat momen itu dimana kami tertawa bersama, makan, memasak, bahkan Junho mengajakku berdansa malam itu.

Kulihat HPku bergetar. Kuambil dari atas meja, 2 New Messages.

From : Chansung

Yoona.. Sudah bangun kan? Jangan lupa teh yang dimeja dekat tempat tidurmu diminum ya, mgkn sudah dingin, soalnya dari semalam kubuat. Tapi kamu sudah tertidur semalam. Oh iya, hari ini jgn lupa datang ke live stage kami ya. Aku ingin kamu menyemangatiku disana. Kutunggu ya! J

Aku tersenyum melihat sms dari Chansung. Kubuka lagi sms yang satu lagi.

From : Junho-Oppa

Kalau bersama Chansung yang kmu mau. Baiklah. Maaf aku tiba-tiba mengganggu.. J

Membaca sms dari Junho, aku jadi teringat kejadian semalam. Ketika aku masuk kamar, Junho mengirimkan sms untuk melihat ke luar jendela.

****************

              Don’t you remember you told me you love me baby? You’ve said you’ll be coming back this way agaiiin…

              HPku berbunyi dari dalam tasku. Ketika kulihat, nama ‘Junho-Oppa’ muncul di layar HPku.

              “Junho?”

“Yoona.. Bisakah kamu berjalan ke jendela kamarmu?”

Aku berjalan sesuai arahan Junho, dan kulihat Junho dengan teleponnya berdiri diluar sana. Setitik rindu muncul di hatiku dan mengalir ke seluruh tubuhku. Tiba-tiba aku merindukan suara ini dan ingin berlari memeluk tubuh yang terlihat kurus dan pucat itu.

“Yoonaaa…”

“Ya?”

“Today is my birthday..”

“Ya.. Lalu?”

Junho diam, ia menatapku dari bawah.

“Junho?”

“Maukah kamu menemaniku sebelum jam 12 malam datang? Untuk momen ini saja… Bolehkah.. Bolehkah kamu menemaniku seolah-olah kita masih berpacaran?”

Aku tersentak kaget. Omongan Junho terdengar sangat serius. Tapi dibalik omongannya, aku merasa seperti ada sesuatu yang dirahasiakannya dan itu sebuah rahasia yang besar.

“Aku.. Aku tidak tahu, Junho.”

Junho tersenyum, “Karena ada Chansung disana ya?”

Aku mengangguk,”Aku tidak mungkin meninggalkannya disini dan pergi bersamamu. Ia bisa sakit hati.”

Junho mengangguk dan tersenyum,”Ya, aku tahu. Aku yang salah, kenapa tiba-tiba menyodorimu pertanyaan seperti ini. Mian Yoona..”

Kami masih saling menatap tapi tidak satupun yang memulai percakapan sampai akhirnya aku memutuskan suatu hal.

“Junho-oppa..”

“Ya,Yoona?”

“Maaf, tapi aku harus mengatakan ini.”

“Apa?”

“Mulai esok, tidak perlu perhatian lagi padaku. Walaupun aku meminta suatu hal, atau Chansung menyuruhmu untuk menemaniku, kamu tidak usah memaksakan diri  untuk melakukannya. Mulai esok, aku akan menjaga jarak denganmu. Aku tidak akan merepotkanmu lagi. Aku , sepenuhnya , akan bergantung pada Chansung saja.”

Junho hanya bisa diam dibawah. Walaupun jauh , bisa kulihat ada tetesan airmata jatuh dari bola matanya. Saat itu aku merasa telah mengatakan sesuatu yang salah, dan aku ikut menangis.

“Aku mengerti Yoona. Maaf kalau selama ini kehadiranku malah mengganggu hubunganmu dengan Chansung. Maaf kalau hari ini aku tiba-tiba menemuimu lagi. Maaf. Aku tiba-tiba merindukanmu..” Junho menghela nafasnya,”Aku hanya merasa, mungkin ini yang terakhir kalinya..”

Klik. Junho menutup teleponnya. Ia pergi dari posisinya menuju ke mobilnya yang diparkir agak jauh.

Yang terakhir kalinya? Apa maksud Junho ya?

Melihat kepergiannya, hatiku seperti ditusuk. Aku tidak mau Junho pergi tapi aku juga tidak mau Chansung pergi. Aku egois, benar-benar egois. Aku duduk di tempat tidurku, membuka loker mejaku. Kuambil sebuah figura foto dari situ. Kupandang dan kupeluk frame itu.

*************

Itu kejadian semalam yang kuingat. Mungkin sms Junho tadi sudah dikirim sejak semalam, namun baru kubaca tadi pagi. Kulihat jam dinding kamarku. Sudah jam sembilan pagi. Seingatku acara Chansung nanti akan dimulai jam dua siang tapi sekarang mereka pasti sudah bersiap-siap untuk rehearsal. Mengingat aku juga disuruh tiba sebelum acara mulai, berarti sekitar jam dua belas, paling lama jam satu. Aku segera bergegas untuk membenahi diriku.

Selesai mandi , aku mencoba untuk memasak makanan untuk Chansung dan juga anggota yang lain. Kupersiapkan semua bahan memasak dan juga tempat makannya. Disibukkan dengan memasak, aku melupakan kejadian yang terjadi antara aku dan Junho semalam.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Aku langsung membereskan alat-alat masakku. Aku segera berganti baju, sedikit berdandan lalu segera pergi menuju tempat acara.

Sekitar jam dua belasan aku tiba. Para fans dan pers sudah ramai diluar gedung. Antrian sudah terlihat panjang. Banyak spanduk untuk beberapa artis diluar dari Band Chansung. Aku mengeluarkan HPku dan memencet nomor telepon Chansung.

“Chansung, aku sudah sampai di gedung E.”

“Ah.. Sebentar, biar aku suruh orang kesana untuk menjemputmu agar kamu bisa lewat pintu belakang. Tunggu disitu.”

“Baiklah.”

Aku menunggu orang suruhan Chansung itu sambil duduk di sebuah kursi. Kulihat antrian fans yang begitu ramai di seberangku. Banyak yang membawa poster dan spanduk. Fans Chansung pun sudah berkumpul bersama mengenakan kaos yang bertuliskan ‘Chansung, I’m your fans!’ , ‘Chansung, marry me!’ bahkan ada spanduk yang tulisannya ‘Chansung, I want to be Jeonggam!!’. Aku tersenyum sendiri melihat aksi fans yang lucu-lucu.

“Yoona?”

Aku menoleh ke belakang. Orang suruhan Chansung itu sudah datang. Ia mengajakku untuk lewat pintu belakang. Dari pintu itu, ia mengantarkanku langsung ke ruang ganti Chansung. Ku ketuk pintunya.

“Ya?” Seseorang membukakan pintu itu.

Aku langsung mengucapkan salam, “Annyonghaseyo..”

“Yoona?”

Aku menengok ke depanku, suara yang sangat familiar di telingaku, suara Junho.

Kami bertatap-tapan beberapa menit, lalu Chansung muncul dari belakang,”Aaah.. Yoona!”

Junho tersenyum lalu kembali masuk kedalam, duduk di sofa, bergabung bersama yang lain. Chansung menggandeng tanganku, mengajak masuk.

“Kamu bawa apa?” Tanya Chansung sambil menunjuk ke arah tangan kananku.

“Ooh.. Ini makanan untukmu.”

Chansung tersenyum lebar,”Untukku??”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Hey, Chansung. Apakah untuk kami tidak ada?” Tanya Wooyoung yang diikuti tawa dari anggota yang lain.

“Ada kok. Untuk kalian juga ada.” Jawabku.

Wooyoung dan yang lain langsung bergerak mengambil makanan dari Chansung, kecuali Junho. Junho masih duduk di sofa dan terlihat sibuk dengan HP nya.

“Junho, kamu tidak ambil bagianmu?” Tanya Chansung.

Junho menengok, tersenyum kecil,”Aku sudah kenyang. Kalau kamu mau, kamu  boleh makan bagianku.”

“Aaah.. jinjja?? Yes! Junho memang baik!” Chansung langsung mengambil punya Junho.

Aku sedikit sedih mengapa Junho tidak memakan masakanku. Apakah semenjak kata-kataku semalam, ia benar-benar tidak mau lagi berhubungan dengan segala sesuatu tentangku?

Tok.. Tok…

“Biar aku saja. Kalian lanjutkan saja makannya.” Junho bergerak dari sofanya dan yang lain tetap lanjut makan.

“Aahh.. Min?” Junho menyapa seseorang yang mengetuk pintu ruang ganti mereka.

Chansung berhenti dari makannya, dia mengintip ke arah pintu. Dia melihat beberapa lama lalu kembali makan.

“Ada apa?” tanyaku penasaran karena melihat ekspresi Chansung yan berubah. Senyumnya menghilang.

Chansung menggeleng, lalu melahap makanannya kembali.

“Gomawo Min. Aku memang sedang kehausan. Hehehe..” Junho tertawa ramah bersama Min.

Bukankah Min mantan Chansung? Lalu mengapa Junho dan Min bisa bercakap-cakap ramah seperti itu?

Junho menutup pintu lalu duduk kembali di tepatnya sambil minum sekaleng jus.

“Apa itu?” Tanya Khun.

“Jus leci.”

“Buat kami mana?”

Junho mengangkat bahunya,”Tidak tahu. Dia Cuma memberikan satu kepadaku.”

“Aah… Curang.” Sambung Wooyoung.

“Hehehe..” Junho nyengir puas melihat Wooyoung iri, dan membuatku sedikit merasa jealous.

[Chansung part]

Yoona datang membawakan makanan kepada kami semua. Kami sangat senang karena daritadi kami hanya makan snack dan minum air putih. Semua dengan lahap memakan makanan dari Yoona, kecuali Junho yang berkata sudah kenyang. Tadi tiba-tiba Min datang menemui Junho. Aku kaget sekali. Setelah putus, kami tidak pernah bertemu sama sekali, jadi tadi ketika mendengar Junho meneriakkan nama ‘Min’, aku penasaran sekali.

Selesai makan, kami segera bersiap-siap untuk tampil lagu pertama kami. Yoona menunggu di ruang ganti kusuruh. Lagu pertama berlangsung dengan baik. Usai lagu pertama, kami segera berganti baju untuk membawakan lagu kedua, lagu yang pelan.

“Hyung, fans diluar sangat banyak sekali ya?” Tanya Junho pada Khun yang disambut dengan anggukan.

“Kita harus bisa memuaskan mereka.” Sambung Wooyoung.

“Ya , jangan sampai mereka kecewa.” Ucapku.

Dikala semua sedang berganti baju, kulihat Junho memisahkan diri dari kami semua. Ia menuju tasnya, lalu mengambil sebotol air putih dan tissue. Junho kembali duduk di sofanya. Ia seperti kelelahan dan menghela nafas panjang. Ia mengelap sesuatu dari mukanya lalu mengambil tissue lagi dari tasnya. Junho pun berdiri dari sofa dan berjalan menuju pintu, tapi tiba-tiba ia jatuh.

GUBRAAKK!!

“JUNHO!!” Aku segera berlari dari tempat dudukku dan menghampir Junho.

“Chansung, ada apa?!” Wooyoung ikut berlari.

Aku membalikkan badan Junho yang terbaring di lantai. Ketika badannya kubalikkan, kulihat muka Junho yang sangat pucat. Dari hidungnya berkeluaran darah, dan ia keringat dingin. Kuangkat tangannya, ternyata tangannya mengepal tissue yang sudah berlumuran darah.

“Junho!! Junho-aah!!” Aku menaruhnya diatas pangkuanku dan menepuk pipinya.

“Junho! Ada apa denganmu,Junho??” Khun ikut meneriaki Junho.

Tiba-tiba aku teringat akan perkataan apoteker semalam. Tumor otak? Apakah benar Junho menderita tumor otak?

“Wooyoung, tolong panggilkan Yoona. Khun hyung, tolong bilang manager untuk panggil ambulance.”

Wooyoung dan Khun segera pergi mendengar suruhanku, sementara Junsu dan Taec masih kebingungan akan apa yang terjadi.

“Bagaimana dengan lagu berikutnya?” Tanya Taec.

“Biar aku menyanyikan bagiannya.” Sambung Junsu hyung yang juga terlihat panik, duduk disampin Junho- melap darah yang keluar dari hidung Junho.

“Junho-ah… Bertahan Junho-ah..” Airmataku mengalir tiba-tiba melihat keadaan sahabatku ini tidak sadarkan diri, dengan darah yang mengalir dari hidungnya.

“Chansung? Ada apa?” terdengar suara Yoona dari arah pintu.

Yoona mendekatiku dan aku tahu dia pasti kaget melihat Junho terbaring lemah di atas pangkuanku.

“JUNHOOO!!!” Yoona langsung memegang kepala Junho. Airmatanya langsung jatuh dari kedua bola matanya.

“Chansung, ada apa dengan Junho?”

Aku hanya bisa menggeleng,”Kami semua tidak tahu. Tiba-tiba saja ia jatuh pingsan seperti ini.”

KREK!

Suara pintu terbuka. Wooyoung, manager kami dan beberapa petugas kesehatan datang. Junho dibopong dengan tandu dan segera dilarikan ke mobil.

Aku menarik Yoona,”Yoona, kamu temani Junho ya.”

“Tapi, Chansung, aku kan disini untuk menemanimu…”

Aku menggeleng,”Yang membutuhkanmu sekarang adalah Junho, bukan aku. Aku baik-baik saja.”

“Tapi… Chansung…”

“Yoona, lebih baik kamu pergi sekarang. Akui perasaanmu bahwa kamu mencintainya daripada semua telah terlambat dan kamu menyesalinya..”

“Ma… Mak.. Maksudnya?” Mata Yoona semakin berkaca-kaca.

Aku menutup wajahku dengan kedua lenganku. Kakiku tidak kuat lagi sehingga aku terjatuh di lantai.

“Ada apa Chansung? Ada apa dengan Junho?!” Yoona mulai panic.

“Junho mengidap tumor otak.”

“Apaa?!!”

Aku mengangguk,”Aku baru tahu semalam, ketika pulang dari apartemenmu, dia menitip obat padaku. Saat aku menebus obat itu ke apotik, apoteker itu berkata bahwa itu adalah obat untuk yang terkena tumor otak.”

Yoona menutup mulutnya, airmatanya semakin deras mengalir.

“Cepat Yoona. Cepat temani Junho. Junho membutuhkanmu.”

Yoona masih diam terduduk di depanku. Tidak percaya akan keadaan Junho.

“Please Yoona. Sebelum kamu menyesal. Please lakukan apa yang hatimu katakan. Kalaupun kamu tidak tahu apa yang hatimu katakan, setidaknya lakukan ini untukku”

Yoona menghapus airmatanya. Ia berdiri lalu pergi kerumah sakit.

Khun mendatangiku. Ia membantuku berdiri.

“Sabar Chansung. Junho pasti akan baik-baik saja.”

“Tapi hyung… Penyakit Junho..”

“Ada apa dengan penyakitnya?” Junsu hadir diantaraku dan Khun, yang kemudian diikuti oleh kedatangan Wooyoung dan Taec.

Aku melihat kea rah mereka semua,”Junho mengidap penyakit Tumor otak….”

“Apaaa?!!” semua teriak bersamaan , tidak percaya.

[Yoona part]

Begitu sampai di rumah sakit, Yoona langsung mencari Manager. Yoona bergerak ke ruang IGD dan melihat Manager disana.

“Bagaimana keadaan Junho?”

“Keadaannya sudah parah Yoona. Ini dokter sedang mengurus operasi pengangkatan untuk dilakukan.”

“Operasi?” Aku sangat kaget mendengarnya.

Manager itu hanya mengangguk sambil kembali melihat  keadaan Junho.

“Apa benar Junho mengidap tumor otak?” tanyaku lagi.

“Darimana kamu tahu?” Manager itu tampak bingung.

“Chansung mengetahuinya semalam. Walau bukan dari Junho. Apa itu benar?”

Manager itu mengajakku keluar dari ruang IGD.

“Junho memang sudah lama mengidap penyakit ini. Tapi ia tidak pernah mau mengeceknya jika sakit kepalanya datang. Dua bulan yang lalu, penyakitnya bertambah parah, ketika ia cek ke dokter, doketer menyuruhnya untuk segera melakukan operasi pengangkatan. Walau tidak seratus persen bisa berhasil, paling tidak bisa memperpanjang umurnya.”

“Umur?” tanyaku heran.

“Ya, menurut dokter, waktu itu, umurnya hanya dapat bertahan tiga bulan. Itulah mengapa ia meminta untuk jadual latihan narinya dikurangi, karena ia sudah tidak sanggup lagi. Itu juga sebabnya album baru yang dikeluarkannya lebih ke arah ballad-acapella. Padahal bisa saja albumnya itu dibuat beat, toh dia pandai menari. Tapi karena kondisi badannya tidak memungkinkan, jadilah seperti itu.”

Aku hanya bisa menutup mulutku. Tidak kusangka penyakit Junho sudah separah itu.

Tunggu. Dua bulan yang lalu??? Bukankah itu ketika kami putus? Jadi alasan sebenarnya ia memutuskanku karena ia tahu umurnya tidak panjang lagi?

Mengingat kenyataan itu, hatiku sesak dan aku menangis sejadinya disana. Manager kebingungan akan tingkahku. Ia menenangkanku sampai dokter keluar dari ruangan.

“Atas nama Pasien Lee Junho?”

“Ya.” Manager berdiri dan menghampiri dokter. Setelah berbicara beberapa menit, Manager kembali kepadaku.

“Ada apa?” tanyaku

“Junho akan segera dioperasi. Tapi…”

“Tapi..?”

“Kemungkinan ia selamat hanya 25%. Jika ia benar-benar sembuh, berarti mukjizat terjadi.”

Tidak mungkin!! Junho belum boleh meninggal. Aku belum bilang bahwa aku masih mencintainya. Aku belum meminta maaf. Aku tidak rela dia meninggal!

“Tidak mungkin.. Tidak mungkiin…”

“Tenang Yoona.. Mari berdoa supaya ada mukjizat.”

Manager mengajakku pindah ruangan. Kami berjalan menuju ruang operasi. Kami menunggu diluar. Sejam, dua jam, belum ada kabar dari Junho. Aku menunggu dengan cemas. Berharap operasi berjalan dengan lancar.

Kliiing.. Keliiing…

“Ya.. Manager disini.” Manager mengangkat telepon.

“Ya betul. Ada apa ya?”

“Apaaaa???!”

Aku langsung menoleh ke arah manager. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Tapi apa ya?

Manager menutup teleponnya. Ia duduk disebelahku dengan lemas.

“Ada apa?”

Manager itu memegang tanganku.

“Ada apa??” aku semakin curiga.

“Tadi dari polisi.”

“Lalu?”

“Chansung kecelakaan motor.”

“APA?!”

“Ketika mereka selesai tampil. Chansung langsung meminjam motor salah satu crew disana. Mungkin karena ia mengebut dijalan memikirkan Junho, ia tidak sadar di depannya lampu berubah warna merah. Ia terus mengendarai sehingga ada mobil dari kiri jalan menabraknya dan ia terbanting ke jalan.”

“Cha… Chan.. Chansung…”

“Sekarang Chansung sedang dibawa ke rumah sakit ini juga, dan polisi sedang membereskan berkas-berkasnya. Kata polisi sih lukanya tidak terlalu parah, tapi ya lebih baik pihak rumah sakit yang memastikan. Kamu tunggu sini saja. Aku mau ke depan, siapa tahu  yang membawa Chansung sudah datang.”

Aku masih terdiam tidak percaya. Hari apa ini sebenarnya? Mengapa semua terjadi tiba-tiba seperti ini? Disaat aku ingin memastikan perasaanku kepada Junho tapi harus diragukan lagi dengan keadaan Chansung saat ini.  Kepada siapa aku harus datang?

 

“Yoona…”

Aku melihat ke sampingku. Khun Oppa duduk di sebelahku. Dia membelikanku sebuah minuman. Aku mengambil minuman itu.

“Kamu pasti sedang bingung ya?”

Aku hanya diam sambil menggenggam minumanku.

“Coba tenangkan dirimu dulu. Lalu pikirkan baik-baik. Apabila keduanya harus meninggal, kepada siapa kamu ingin jujur mengakui perasaanmu? Kepada siapa kamu ingin berada?”

Mengakui perasaan?

“Tapi, oppa.. Keduanya orang yang sangat penting bagiku…”

“Ya, aku tahu. Tapi dua orang itu tidak menempati posisi yang sama. Pasti salah satu ada yang lebih prioritas. Hanya kamu belum menyadarinya.”

Aku hanya diam dan mulai berpikir. Tiba-tiba saja, Manager datang kearah kami.

“Yoona, Chansung sudah di kamarnya. Kamu bisa melihatnya sekarang. Lukanya tidak terlalu parah. Lehernya patah, tapi sudah diberikan pengobatan yang terbaik. Tadi ada sedikit pendarahan tapi sudah dihentikan. Berdoa saja tidak ada komplikasi lainnya sehingga ia bisa sadar.”

“Ah… Terima kasih Tuhan.”

“Jadi, Yoona? Kamu mau pergi ke kamar Chansung?” Tanya Khun Oppa.

Aku mulai berpikir. Lalu aku tersenyum dengan bangga.

“Aku akan ke kamar Chansung. Setelah itu aku kembali kesini.”

Khun Oppa tersenyum,”Sepertinya kamu sudah tahu prioritasmu.”

Aku berlari mencari kamar Chansung. Sedikit berharap ketika aku sampai disana, Chansung sudah sadar sehingga aku bisa berbicara dengannya. Mengutarakan segalanya. Sesampainya didepan kamar, kulihat Junsu-Wooyoung-Taec ada di dalam kamar. Kupegang gagang pintu kamar itu,tapi kulihat Min disana sedang menangisi Chansung. Aku tidak jadi masuk kedalam. Kulihat saja Chansung dari luar. Ia terlihat sangat lemah. Banyak selang yang dihubungkan ke tubuhnya. Chansung masih tidak sadar walaupun obat-obatan sudah dimasukkan ke tubuhnya. Alat bantu pernafasan juga di pakaikan ke dirinya.

 

 

 

 

 

 

                Aku berlalu dari kamar itu. Berjalan di koridor rumah sakit, membuatku semakin sadar akan perasaanku. Semoga apa yang kupilih tidak salah. Tiba di depan ruang operasi Junho, kulihat dokter sudah keluar dan berbicara dengan Manager. Aku berlari kecil dan mendatangi Khun Oppa.

“Khun Oppa, ada apa?”

“Operasinya berjalan lancar. Tapi kita masih harus tetap menunggu mukjizat, karena keadaan Junho sangat lemah. Tadi sempat terjadi pendarahan namun untungnya bisa diatasi. Saat ini Junho masih dalam kondisi yang minim, oleh sebab itu Junho masih akan masuk ruang ICU sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.”

Airmataku kembali bercucuran. Seumur hidup, ini adalah hal yang paling kutakuti selain waktu kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan sehingga aku diasuh oleh nenekku, yang tinggal di sebelah rumah Chansung. Khun merangkulku dan membawaku duduk di kursi tunggu. Sesaat tubuh Junho dibawa keluar dan dipindahkan ke kamar ICU. Aku dan Khun melihat dari luar

Tiga hari kemudian…

Chansung sudah sadar dari sakitnya kemarin. Khun yang memberitahukan kepadaku ketika aku sedang kembali ke apartemenku. Sedangkan Junho, masih belum sadar padahal sudah tiga hari. Aku merasa sudah tidak ada harapan lagi. Aku hanya bisa menangis dan berdoa. Setiap kali aku masuk apartemenku , kuingat ketika dia memasak, hal yang sering ia lakukan.

 

 

 

 

Saat ini, ia hanya terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit dengan bantuan alat-alat. Untuk hidup saja, ia harus ditopang. Setiap aku melihatnya di ruangan ICU itu aku tidak tahan. Airmataku terus keluar dan dadaku sesak. Aku masuk kamarku, melihat figura foto yang ada di tempat tidurku. Kulihat terus itu..

“Junho… Kamu harus sembuh… Kamu ga bisa meninggalkanku sendirian disini…”

Airmata mengalir lagi dari kedua bola mataku.

“Bukankah dulu kamu pernah janji mau mengajakku main ke taman bermain? Kita belum sempat kesana kan? Makanya kamu harus sadar ya…”

Sunyi senyap. Membuat hatiku semakin sesak.

“Junho-ah… Aku merindukan suaramu… Sudah tiga hari tanpa sebuah harapan? Please Junho…  Comeback…”

Don’t you remember you told me you love me baby? You’ve said you’ll be coming back this way again..

                “Halo?”

“Yoona-ah… Kamu dimana?”

“Chansung?”

“Ne.. Kamu dimana?”

“Apartemen..”

“Kamu tidak ke rumah sakit?”

“Untuk apa?”

“Menjengukku. Semenjak aku sadar, kamu tidak ada disini.”

……………

“Yoona?”

“Hiks… Hiks…”

“Kamu menangis?”

“Yoona… Aku mengerti perasaanmu.. Tapi Junho pasti baik-baik saja..”

“Darimana kamu tahu? Dia sudah tiga hari tidak sadar. Kata Khun Oppa, keadaannya juga tidak membaik.”

“Tapi kamu tidak boleh putus asa. Coba kamu terus mendampingi dia, mungkin dia akan cepat sadar..”

“Aku ada disitu atau tidak, dia juga tidak tahu kan, Chan?”

“Well.. tapi kamu pasti ingin menjadi orang yang pertama dilihatnya jika ia sadar kan?”

Aku terdiam. Chansung ada benarnya. Masa sih aku tidak mau menunggui Junho ketika ia sedang kritis?

“Baiklah , aku akan kesana.”

“Bagus. Kalau begitu sampai jumpa disini ya.. Aku juga belum bisa banyak bicara.”

Aku bergegas langsung ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, aku pertama kali ke kamar Chansung. Kulihat Chansung sedang menonton TV saja. Alat bantunya sudah dilepas semua, tinggal penopang untuk lehernya. Kuketuk pintu itu.

“Chansung-ah…”

“Yoona? Masuk… Masukk..” Chansung tersenyum melihatku.

Aku menghampirinya dan duduk disampingnya,”Bagaimana keadaanmu?”

“Jauh lebih baik. Seharusnya aku yang bertanya, bagaimana keadaanmu?”

“Baik.” Jawabku singkat.

Chansung tersenyum, membelai rambutku,”Kamu bohong Yoona. Matamu bengkak, pasti sudah beberapa hari ini kamu menangis kan? Memikirkan keadaan Junho yang tidak kunjung sadar..”

Aku hanya bisa diam, tidak bisa berbicara banyak.

“Kenapa diam? Kamu merasa ada yang telat untuk kamu akui kah?”

Aku menatap Chansung,”Maksudnya?”

“Kamu baru menyadari kalau kamu benar-benar mencintainya disaat ia sedang kritis seperti ini. Kamu berpikir coba waktu itu kamu mengakui perasaanmu padanya, pasti saat ini kamu tidak perlu menyesal seperti ini..”

“Chansung-ah.. Perasaanku kan padamu…”

Chansung meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku,”Psst.. Yoona.. Belajarlah untuk berterus terang pada dirimu. Aku sudah tahu dari awal kamu hanya mencintai Junho bukan aku..”

“Tapi,a ku tidak mau kehilanganmu Chansung…”

“Rasa yang kamu rasakan kepadaku itu hanya sebatas perasaan sebagai sahabat. Selama belasan tahu kita tinggal bersama dan selalu aku manjakan, kamu jadi merasa tergantung. Itulah perasaan ‘tidak mau kehilangan’ yang kamu rasakan padaku..”

“Tapi aku cemburu melihatmu bersama Min..”

“Oh ya??” Chansung tertawa.

“Chansung, aku serius.”

“Iya, maaf –maaf. Kurasa kalau masalah Min, kamu tidak ingin aku dimiliki wanita lain, karena selama belasan tahun yang ada di dekatku hanya kamu. Jadi kamu takut posisimu sebagai sahabatku tergantikan. Padahal sebenarnya tidak pernah tergantikan.”

Aku masih memandangi Chansung yang masih membelai rambutku.

“Yoona, kamu sudah besar. Jangan menipu hatimu sendiri. Sebelum semuanya terlambat, lebih baik kamu akui perasaanmu. Setidaknya jujur pada dirimu sendiri walau Junho tidak mendengarnya. Jangan keraskan hatimu.”

“Tapi….”

“Oke oke. Kamu ini,tidak berubah. Bagaimana kalau kita main game?

“Game?”

“Ya, kamu menjawab pertanyaan yang aku berikan. Pilih salah satu dari dua item yang akan aku sebutkan. Tapi kamu harus menjawab dengan cepat.”

Aku tertawa kecil lalu mengangguk,”Ne. Araso..”

Chansung memulai pertanyaannya,”Permen dan Coklat?”

“Coklat.”

“Coklat vanilla atau dark?”

“Dark.”

“Spaghetti atau Fetucinni?”

“Fetucinni.”

“Pizza atau Burger?”

“Pizza.”

“Matematika atau Menggambar?”

“Menggambar.”

“Apartemen atau rumah pribadi?”

“Apartemen.”

“Summer atau Winter?”

“Winter.”

“Pink atau Merah?”

“Merah.”

“Pisang atau Leci?”

“Leci.”

“Akting atau menyanyi?”

“Menyanyi.”

“Menyanyi atau menari?”

“Menari.”

“Junho atau Chansung?”

“Junho.”

Chansung tersenyum puas sedangkan aku hanya menutup mulutku. Tidak percaya akan apa yang aku katakan.

“Kamu curang Chans, masa kamu nanya pertanyaan seperti itu padaku?”

“Loh, kenapa? Semua yang kamu jawab berasal dari hati kamu dan merupakan kesukaan kamu. Seperti makan kesukaanmu, warna kesukaanmu, hobimu, semua itu bentuk aslimu. Berarti jawaba ‘junho’ , aku anggap dari dalam hatimu. Sudahlah Yoona.. Kamu hanya perlu mengakui saja.”

Aku tertawa, tidak percaya Chansung bisa membuatku seperti ini.

“Chansung-ah!!” tiba-tiba seseorang membuka pintu dari luar.

“Ah, hyung, ada apa?”

Junsu berlari kedalam ruangan,”Kalau Junho masih tidak sadar sampai siang ini, alatnya dicabut semua karena itu pertanda tidak ada kemajuan dari reaksi tubuhnya.”

“A… Apaa?!!”

Chansung memegang tanganku,”Sabar Yoona.”

“Bagaimana bisa mereka mencabut semua alat itu?!” emosiku meluap. Jika Junho tidak dibantu alat-alat itu, tentu dia tidak bisa bertahan hidup.

Aku beranjak pergi dari tempat dudukku .

“Yoona-ah!” Chansung meneriakiku.

Aku menghiraukannya, tapi baru berjalan sebentar, tiba-tiba tubuhku lemas, pandanganku buyar dan gelap.

“Yoonaaaa-ah!!”

[Chansung part]

Aku melihat Yoona yang terbaring di sofa ruangan kamarku. Yoona pingsan setelah mendengar kabar dari Junsu Hyung tentang Junho. Jangankan Yoona, aku saja kaget mendengarnya. Setelah diperiksa dokter, Yoona dikatakan kurang istirahat dan kurang makan. Pasti beberapa hari ini, Yoona tidak bisa tidur dan menangis.

Setelah berbicara dengan manager dan anggota lain, kabar terbarunya adalah bahwa Junho akan dipindahkan ke ruangan biasa karena tadi sehabis berita yang dibawakan Junsu Hyung, Junho tiba-tiba memberikan respon yang baik dari dalam tubuhnya. Jari-jarinya bergerak walau matanya belum terbuka sehingga dokter memperbolehkan ia dipindahkan ke ruangan biasa. Chansung sudah tidak sabar memberi tahu kabar ini.

Yoona tiba-tiba membuka matanya,”Dimana ini?”

“Masih di kamarku di rumah sakit. Tadi kamu pingsan..”

Yoona berusaha duduk. Ia memegang kepalanya, sepertinya mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi.

“Kamu belum makan, kan? Makan dulu ya, tadi aku sudah minta tolong Wooyoung untuk membelikanmu bubur.” Aku mengambil semangkuk bubur yang dibawakan Wooyoung tadi.

Yoona mengangguk.

“Bagaimana dengan Junho,Chan?”

“Makan dulu aja, baru urusin tentang Junho.” Aku menyuapkan sesendok ke mulut Yoona.

“Aku tidak nafsu makan.” Yoona membuang muka.

“Yoona.. Kalau begini terus kamu bisa sakit.”

“Biar saja. Toh tidak ada gunanya juga aku sehat jika Junho akan pergi untuk selamanya.” Airmata kembali menetes di pipi Yoona.

 

 

 

 

“Yoona,pikirkan kesehatnmu. Junho bisa sedih melihatmu begini.” Aku kembali mengarahkan sendokku.

“Tidak perlu menghiburku Chan.. Junho pasti tidak akan sembuh, ia akan meninggalkanku sendirian. Ia tidak mau mendengarkan perasaanku.Aku mau ikut Junho saja!!”

“YOONAAAA!!!” Aku terpaksa teriak , kulihat Yoona tersentak.

“Maaf. Bukan maksudku meneriakimu. Tapi tolong Yoona, kami semua juga menyayangi Junho. Dia sudah seperti jiwa kami sendiri. Kami semua juga sedih melihat keadaannya seperti ini. Kami semua berusaha supaya Junho bisa sembuh, jadi tolong kamu menghargai segala kerja keras kami dengan menghargai dirimu sendiri. Kamu harus kuat dong Yoona. Masa depanmu masih panjang jadi jangan putus asa seperti ini.”

“ Please Yoona, sekali ini dengarkan perintahku. Kamu harus makan. Kalau kamu sakit, aku juga sedih. Kamu tahu betapa hancurnya perasaanku melihatmu menangis-pingsan-tidak bersemangat seperti ini? Perasaanku remuk sama seperti perasaanmu melihat Junho yang tidak sadar. Jadi tolonglah, kita saling mengerti.”

Yoona menatapku, lalu melap airmatanya.

“Makan ya? Aaaaaa…..” Aku mengarahkan sesuap sendok.

Yoona menyambutnya. Yoona makan dengan lahap dan menghabiskan bubur beserta minumnya.

“Oh iya Yoona..”

“Ada apa?”

“Junho sudah memberikan respon yang baik.”

Mata Yoona membelalak.

“Tadi katanya jari-jarinya bergerak-gerak walau matanya belum terbuka, tapi itu merupakan suatu respon yang baik. Dokter sudah mengecek kondisinya, masa kritisnya sudah lewat, dan kita tinggal menunggu ia sadar saja. Junho juga sduah dipindahkan ke ruangan yang biasa.”

“Be.. Benarkah?”

“Ya. Dia di dua ruangan di sebelah kamarku.”

“Eeee… Yoona.. Yoona!”

Yoona sudah berlari saja keluar kamar. Meninggalkan tas nya dan minumannya yang belum habis. Aku hanya bisa tertawa.

 

— CONTINUE TO FINAL PART!—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s