CHAPTER IV – [TRIANGLES LOVE]


[Chansung Part]

Tok.. Tok.. Tok

“Ya, masuk.” Aku hanya berteriak, tidak beranjak dari tempat tidurku sedikitpun.

“Chansung-ah, belum tidur kan?”

“Aah.. Khun hyung. Belum kok. Ada apa?” Aku menaruh buku yang kubaca tadi di kursi sebelah tempat tidurku.

Khun hyung tersenyum lalu duduk di tempat tidurku. Aku tidak mengerti mengapa Khun hanya senyum-senyum di tempat tidurku.

“Ada apa hyung?”

“Sedang apa?”

Aku mengerutkan dahiku. Aku melihat jam dindingku, sudah jam sepuluh malam dan Khun masuk ke kamarku hanya untuk bertanya sedang apa, rasanya ada yang aneh.

“Baca buku.”

Khun mengangguk.

Aku memukul lututnya, “Hyung! Ada apa?”

“Bagaimana kabar Yoona?”

Yoona? Kenapa tiba-tiba khun menanyakan Yoona padaku?

“Baik mungkin.”

“Mungkin?”

Aku mengangguk lalu menambahkan,”Yaaa.. Aku juga sudah beberapa hari ini tidak berhubungan dengannya.”

“Sejak dari rumah sakit?” Tanya Khun.

“Kok tahu?”

Khun tersenyum,”Chansung-ah.. Aku hyung-mu, aku sudah banyak pengalaman. Aku sudah menyadari ada yang aneh antara kamu dan Yoona.”

“Aneh bagaimana?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

Khun berdiri dari tempat tidurku. Ia mengitari sekeliling kamarku dan berhenti di depan meja belajarku. Ia mengambil HPku dan tersenyum kepadaku,”20 missed calls. Wow!”

Khun lalu duduk kembali di tempat tidurku. Aku berusaha merebut HP itu tapi tidak bisa karena Khun terus mencegahnya. Khun mengutak-atik HPku,”20 missed calls, 6 pesan masuk, dari Yoona, dan tidak ada satupun yang kamu tanggapi. Bukankah itu aneh, Chansung?”

Aku hanya bisa diam dan mengambil HP ku secara paksa,”Kalau masalah ini, biar jadi masalahku saja Hyung.”

Khun kembali tersenyum,”Chansung, kamu sudah dewasa kan? Mungkin kamu yang paling kecil diantara kami semua, tapi berusahalah untuk jujur pada dirimu sendiri. Don’t be too late.”

“Aku gak mengerti maksudmu.”

“Well, it’s very simple. Kamu menyayangi Yoona, Yoona menyayangi kamu, hanya sayangnya Junho yang berada di sisi Yoona bukan kamu. Kamu ingin sekali berada di sisi Yoona tetapi kamu tidak mau mengkhianati persahabatanmu dengan Junho sehingga pada akhirnya kamu harus bersikap acuh pada Yoona padahal kamu tahu Yoona mengharapkanmu lebih dari Junho. Dan sekarang kamu gak tahu apa yang harus kamu lakukan karena dua-duanya orang yang sangat penting bagimu.”

Aku kembali lagi hanya bisa terdiam. Semua yang dikatakan Khun adalah benar seratus persen. Junho begitu baik dan dewasa, dia orang yang sangat kusayang, dia orang yang selalu membantuku apapun situasinya, dia  selalu mengalah padaku dan dia orang pertama yang mengajariku untuk bertahan di dunia entertainment ini, jadi sungguh tidak mungkin aku mengambil orang yang paling ia sayangi.

“Pikirkan baik-baik Chansung. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, jangan sampai kamu menyesali nantinya. Kalau memang kamu sangat menyayangi Yoona, jujurlah pada dirimu sendiri.”

“Aku mau hyung. Aku sangat mau jujur pada diriku, tapi masalahnya bukan itu.”

Khun mengangkat alisnya,”Masalahnya pada Junho..?”

Aku menghela nafas dan mengangguk.

“Sudah berapa lama kita semua bersama? Bukankah kamu tahu sekali sikap Junho bagaimana? Junho selalu melindungimu kan, dan dia selalu mengalah padamu.”

“Ya, aku tahu. Junho terlalu baik bahkan untuk kusakiti.”

“Sakiti?”

“Jika aku merebut Yoona darinya, bukankah aku menyakitinya?”

Khun tertawa kecil lalu menepuk lututku,”Kamu hanya berusaha jujur pada dirimu sendiri,Chansung. Yoona yang memutuskan kemana ia pergi nantinya. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kalau Yoona memiliki perasaan yang sama denganmu, aku yakin, Junho bisa melihat itu dan membiarkan kalian bersama. Junho bukanlah anak kecil yang egois. Kamu tahu kan betapa dewasanya ia dalam menghadapi masalah? Ketika ia melihat kedua orang yang ia sayangi berbahagia, aku yakin ia pun turut senang.”

Aku kembali berpikir. Perkataan Khun memang benar. Junho tidak pernah berpikir jahat dalam membuat keputusan. Ia selalu tulus.

Khun menepuk bahuku, “Tidurlah. Sudah malam. Coba berbicara pada Junho. Dia pasti mengerti.”

Selepas Khun dari kamarku, aku kembali berpikir. Di kepalaku yang muncul hanyalah Yoona dan Junho. Setiap kali melihat Yoona, tidak bisa dipungkiri, kedua tanganku ingin memeluknya, ingin menjadi satu-satunya penjaga dirinya. Ketika aku sedang berpikir, HPku berdering lagi, dari Junho.

Junho? Dia tidak dikamarnya kah? Kenapa harus menelponku?

“Junho, ada apa?”

[Yoona’s Part]

Aku melihat album fotoku di kamar. Hampir semua terisi dengan fotoku bersama Chansung. Mulai dari kami masih balita, sd, smp, sma, sampai sekarang. Betapa aku sangat mengagumi dan menyayangi Chansung dari dulu.

Kepalaku mulai menghadirkan lagi kejadian ‘ciuman’ malam itu. Sungguh aneh, hanya dengan kecupan singkat itu, posisi Junho bisa tergantikan. Sebenarnya ada apa dengan diriku ini, di satu sisi aku ingin Junho selalu memperhatikanku tapi di sisi lain aku hanya ingin memperhatikan Chansung. Siapa yang sebenarnya aku ingini, aku pun bimbang.

Aku melihat keluar kamar, Junho masih sibuk di dapur untuk memasakkan makan malam yang sudah sangat telat (berhubung sudah jam ½ 10 malam). Junho merupakan kekasih yang sangat baik dan pengertian. Junho jarang sekali marah, lebih banyak ia mengalah kepadaku ketika ada suatu pertengkaran. Junho juga tidak pernah lupa untuk menghubungiku ditengah padatnya kegiatannya. Junho juga rajin mengunjungiku ke apartemen dan selalu membawakan sesuatu untukku, terutama bunga, hadiah yang sangat kusukai.

Aku melihat kembali ke album foto, melihat Chansung. Chansung juga sangat mengerti aku. Sahabat yang selalu ada kapanpun aku ada. Tapi benarkah aku hanya menganggapnya sahabat? Jika hanya sahabat, mengapa aku ingin sekali mendengar suaranya walau hanya mengucapkan namaku? Mengapa aku merindukan pelukannya di saat aku kesepian? Apa benar ini hanya perasaan sebagai sahabat?

“Yoonaa…” Junho teriak dari dapur.

Aku menutup album fotoku,”Ya, sebentar.”

“Yoona, cepat.” Junho menarik tanganku.

Aku tersenyum saja.

Junho mengambil sumpit dan menyuapkan fettucini yang ia buat tadi ke mulutku.

“Enak gak?” tanyanya dengan penuh harapan.

Aku mengangguk lalu berjalan ke meja bar. Junho memberikan sepiring fettucini masakannya ke hadapanku. Kami pun makan malam bersama.

“Ada apa denganmu, Yoona?”

“Kenapa?”

“Semenjak aku datang, kamu hanya diam dan tersenyum.”

“Memangnya kamu mau aku seperti apa?”

Junho tersenyum kecil lalu menatapku,”Apapun yang kamu lakukan, aku selalu menyayangimu.”

Aku mengaduk-aduk fettuciniku, memakannya perlahan-lahan.

“Eh, besok kamu ada acara? Kita pergi main yuk, bagaimana?”

Aku diam tidak menjawab. Pikiranku masih terarah pada Chansung, mengapa ia sama sekali tidak mau mengangkat telepon dan tidak membalas smsku.

“Yoonaaa… Kamu sedang memikirkan sesuatu?” Junho menyenggolku.

Aku mengangguk.

“Apa? Coba cerita, mana tahu aku bisa bantu.” Junho mengubah arah duduknya ke arahku.

Aku menatapnya lekat,”Chansung. Kamu tahu dia dimana?”

Junho diam, menatapku lekat, lalu kembali melanjutkan makan fettucini miliknya.

“Kamu bilang kamu bisa bantu aku, tapi kamu malah mendiamiku.”

“Kenapa kamu mencarinya?”

“Sudah beberapa hari aku menghubunginya tapi tidak bisa.”

“HP nya aktif kok.” Junho menjawab singkat.

“Iya aku tahu. Tetapi aku sms tidak dibalas, aku telpon tidak diangkat. Kamu tahu dia kemana gak?” Aku menggoyang-goyang lengan Junho.

“Dua hari yang lalu kami ada latihan tari dan vocal, kemarin pagi sampai siang ada jumpafans lalu malamnya kami merayakan ulang tahun teman dan party..”

“Party??”

“Ya, tenang saja, aku tidak banyak minum kok.”

Aku menangguk,”Lalu, hari ini?”

“Hari ini ada mengisi acara di radio sampai sore sesudah itu kami bebas. Kami tadi sudah tiba di apartemen jam lima sore, lalu kami semua beristirahat. Jam setengah tujuh aku berangkat ke sini. Jadi , aku tidak tahu apa yang dilakukan Chansung setelah jam lima sore.”

“Ooh… Aneh yah..”

“Aneh kenapa?” Junho meneguk air minumnya.

“Dia seperti menghindariku.”

Junho menghela nafasnya, ia berdiri di sampingku,”Yoona, bisakah kamu tidak membicarakan Chansung setiap di depanku? Aku bosan setiap kali kamu bertemu padaku yang kamu tanyakan adalah Chansung Chansung dan Chansung. Tidakkah kamu peduli dengan keadaanku?”

Aku menatapnya,”Kamu ini ngomong apa sih, wajar aku memperhatikannya, dia sahabatku sudah hampir tujuh belas tahun.”

“Tapi ini tidak wajar Yoona.”

“Tidak wajar bagaimana, maksudmu?”

“Kok nadamu jadi menaik?”

Aku pergi meninggalkan Junho di ruang makan sendirian. Aku masuk ke kamarku dan duduk di samping tempat tidurku. Junho masuk ke kamarku lalu duduk di sebelahku.

“Yoona, sebenarnya siapa yang ada di pikiranmu saat ini? Aku atau Chansung?”

Aku tidak menjawab, hanya diam.

Junho membelai rambutku,”Aku sungguh menyayangimu Yoona. Aku juga menyayangi Chansung, dia sudah seperti adik kandungku sendiri. Tapi sebagai pacarmu, aku juga bosan jika kamu tidak pernah menanyai kabarku, yang selalu kamu tanyakan hanyalah Chansung.”

“Oppa.. Chansung itu sahabat terbaikku.”

Junho mengangguk,”Iya aku tahu. Maaf kalau aku tadi marah. Tapi bisakah kamu juga menanyakan keadaanku ? ”

Kriiiing…. Kriiingg….

HP ku berbunyi.

“Hallo?”

“Ya ini Yoona. Ini dengan siapa?”

“Aaaahh… Bibi. Ada apa  Bi?”

“Tidak, aku di apartemenku, Chansung di tempatnya.”

“Apaaa?!! Paman……. Chansung sudah tahu?”

                Airmataku yang menetes begitu saja membuat Junho jadi kuatir. Ia mendekapku dengan erat dan bertanya secara perlahan apa yang terjadi.

“Paman….. Ayah Chansung…. Ayahnya meninggal, Junho…”

“Apa?!!”

Aku menangis di dalam dekapan Junho. Junho menenangkanku,”Chansung sudah tahu?”

Aku menggeleng, “Daritadi ibunya mencoba untuk menelponnya tapi sibuk terus.”

“Kamu tidak berusaha menghubunginya?”

Aku kembali menggeleng,”Telepon dan smsku dari kemarin diabaikan. Kalau aku menelpon sekarang, pasti akan diabaikan. Bagaimana ini? Kita harus member tahu Chansung secepatnya.”

Junho melepaskan pelukannya, ia mengeluarkan HPnya dari kantong celananya.

“Halo. Chansung-ah. Kamu dimana?”

“Ehmm… Aku di tempat Yoona, dan barusan Yoona di telpon oleh ibumu. Katanya ayahmu meninggal karena serangan jantung mendadak ketika sedang bermain dengan anak-anak di kampung.”

“Chansung-ah… Chansung-ah.. Aku tahu.. Ya, ya, aku mengerti…”

“Malam ini kita langsung menuju ke rumahmu saja, biar aku ajak Khun hyung untuk menemani, kami bisa bergantian menyetir.”

“Ya, setengah jam lagi aku sampai disana. Ok.. Sabar ya Chansung-ah.. Bye.”

Aku menatap ke Junho, dengan tatapan berkaca-kaca dan berharap,”Bagaimana?”

“Bersiap-siaplah, kita akan menjemput Chansung lalu pergi ke rumahnya.”

“Aku ikut juga?” tanyaku

Junho memegang pundakku,”Kalaupun aku larang, kamu pasti akan tetap pergi untuk menemani Chansung kan? Sudahlah Yoona, jangan bohongi perasaanmu. Pergilah jika kamu memang ingin mendampinginya di saat seperti ini.”

Aku mengangguk, langsung berlari menyiapkan baju dan beberapa barang penting.

*after funeral*

[Junho’s part]

Yoona selalu berada di sebelah Chansung selama di kampungnya. Ia sepertinya sudah lupa jika aku, pacarnya, ikut bersamanya kesana. Tidak masalah, aku bisa menerimanya, karena Chansung terlihat begitu rapuh saat itu.  Suatu hal baru kusadari saat itu, kenyataan yang sediki pahit untukku namun harus bisa kuterima, bahwa Chansung dan Yoona saling menyayangi dan saling membutuhkan. Chansung hanya mau makan jika Yoona yang memaksanya. Begitu juga dengan Yoona, ia baru mau menemui dan menemaniku ketika Chansung yang memaksanya.

Heh.. Kedua orang itu, kenapa harus bersikap seperti ini kepadaku?

                Hati ini sakit sebenarnya ketika melihat Chansung bersandar kepada Yoona dan Yoona memeluknya dengan sangat erat. Kedua orang itu melakukannya ketika aku tidak ada, itu hal yang lebih menyakitkan lagi. Ketika di depanku, mereka bersikap tak acuh, tapi dibelakangku, mereka bahkan seperti sepasang suami-istri. Jujur aku sangat sedih ketika harus menerima kenyataan ini, aku tidak mungkin memaksakan kehendakku pada Yoona. Percuma kami menjalin hubungan ketika kutahu yang ada di hati Yoona bukanlah aku.

“Lee Junho?”

Aku mengangkat wajahku dan menemukan seorang bapak tua menggunakan kacamata telah duduk di depanku membawa beberapa dokumen. Aku menyalam bapak tua yang mengenak jas berwarna putih.

“Bagaimana dengan keadaan saya, Dok?”

Dokter itu hanya diam, lalu menatapku lebih lama lagi.

“Apa hasil dari CT-Scan kepala saya, Dok?” tanyaku sekali lagi.

Dokter itu mengeluarkan sebuah foto yang besar lalu memasangnya di sebuah alat sehingga terlihat jelas apa gambar yang di foto itu.

“Apakah keluargamu ada disini?” Tanya bapak tua yang berprofesi sebagai dokter.

Aku menggeleng,”Mereka ada di Ilsan.”

Dokter itu mengangguk,”Sebenarnya ada baiknya kamu ditemani orang terdekatmu.”

“Tidak apa-apa, Dok. Saya sendiri sudah cukup.”

Dokter itu mengangguk lalu kembali ke foto tersebut.

“Dari hasil pemeriksaan CT-Scan dan medical record mu…” Dokter itu menarik nafas,”Anda terkena tumor otak.”

Tumor otak???

                “Tu… Tu.. Tumor otak, Dok?”

Dokter itu melanjutkan kembali,”Jika dilihat dari hasil CT-Scan, tumor ini sudah termasuk yang ganas.”

Airmataku jatuh mengalir ke pipiku. Tanganku hanya bisa kukepalkan di pangkuanku. Masih tidak kupercaya apa yang kudengar barusan dan apa yang kulihat sendiri. Dokter itu kembali menjelaskan penyakitku yang sudah agak parah ini, jika tidak diambil tindakan maka bisa mematikan. Aku hanya mengangguk saja, tidak bisa berpikir jernih akan apa yang harus kulakukan.

Aku membawa semua berkas dan menebus biaya kontrol dan obat-obatanku. Sesampainya di mobil, aku hanya bisa menangis. Dan di benakku muncul muka Yoona yang sedang tersenyum bahagia, tertawa dengan riang. Mungkin memang Yoona bukanlah jodohku, Yoona tidak akan pernah bisa bahagia bersama seorang pria yang mengidap penyakit parah sepertiku. Yoona harus bersama Chansung. Kedua orang itu memang sudah ditakdirkan bersama.

Kriiing…. Kriiing…

“Halo..”

“Ahh..Chansung, kenapa? Hemm.. Kalian saja.. Aku baru pulang dari Rumah sakit.. Tidak, bukan aku yang sakit, temanku. Ok.. Aku mau istirahat saja. Ok. Ok.. Bye.”

Aku memutar mobilku ke arah apartemen Yoona. Pikiranku dan hatiku mulai tidak senada-tidak sejalan, dan tetap salah satu dari keduanya harus kuturuti demi kebaikanku. Bukan , tapi demi kebaikan semua orang. Sesampainya di tempat Yoona, aku masih mengikuti kata pikiranku, namun ketika melihat muka Yoona ketika membukakan pintu, sepertinya pilihanku harus berubah.

Aku duduk di sofa, sembari Yoona mengambilkan segelas air mineral untukku.

“Kenapa kamu tiba-tiba datang?” Yoona menaruh gelas dihadapanku.

Aku mengambil gelas itu dan meneguknya, “Emang ga boleh ya?”

“Bukan gitu, kalau tadi aku tidak di rumah, bagaimana?”

“Aku akan menunggu.”

“Kalau aku pulangnya sangat larut….”

“Aku tetap menunggu.”

Yoona hanya diam lalu meninggalkanku sendirian di ruang tamu. Kulihat dia berjalan ke meja tempatnya bekerja. Aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang.

“Oppa.. Aku sedang mengerjakan tugasku.” Yoona tetap melanjutkan pekerjaannya , tidak menolehkan wajahnya sedikitpun.

“Maaf.” Aku melepaskan pelukanku lalu kembali duduk di sofa.

Lima belas menit kami berada di ruangan yang sama tetapi tidak ada pembicaraan yang kami bahas. Entah apa salahku padanya, Yoona tidak menegurku sama sekali bahkan hanya diam diri disana.Tidak tahukah dia, bahwa kebersamaan kami hanya tinggal beberapa waktu lagi? Tidakkah ia tahu bahwa saat ini yang kubutuhkan adalah kekuatan untuk menjalani penyakit ini. Tidak. Ia tidak tahu akan penyakitku. Bahkan ia tidak boleh tahu. Aku tidak mau dicintai hanya karena belas kasihan.

“Kamu gak pulang ke apartemen?” Yoona bertanya dari meja kerjanya.

“Nggak. Aku lagi mau disini saja.”

“Loh,kok begitu? Memang kamu gak ikut dengan yang lain pergi ke ulang tahun Sohee?”

Aku menoleh. Darimana ia tahu kegiatan kami ?

                “Kok kamu tahu? Sepertinya aku belum ada bilang mengenai rencanaku hari ini.”

“Dari Chansung. Tadi kami habis telponan, dia bilang dia mau pergi ke ulang tahun Sohee bersama yang lain, makanya aku bingung kenapa kamu disini.”

“Oh, Chansung…”

Yoona yang melihat gelagat anehku, melepas kacamatanya, lalu berjalan mendekat ke arahku.

“Kamu kenapa sih? Kok aneh?”

Aku bingung. Daritadi justru Yoona yang aneh, bersikap jutek kepadaku, tidak seperti biasanya.

“Maaf..”

“Maaf untuk apa?”

“Maaf kalau aku mengganggu. Sepertinya kamu tidak senang dengan kehadiranku.”

Yoona duduk di hadapanku, “Oppa. Bukan tidak senang, aku hanya kaget saja. Ada apa?”

Aku hanya tersenyum. Aku tahu, Yoona berbohong saat itu. Ia memang tidak senang dengan kehadiranku. Matanya yang berbicara seperti itu.

“Kamu dan Chansung… Sepertinya hubungan kalian tambah dekat ya?”

“Ma..Maksudnya?”

Aku tertawa kecil,”Ya tambah dekat. Tambah sering bertemu, tambah sering teleponan. Dan sepertinya kamu lebih senang jika berada dekatnya dibanding berada di dekatku.”

Yoona hanya diam. Sikap duduknya mulai berubah-ubah, sebuah pertanda yang jelas bahwa memang ada sesuatu yang disembunyikannya dariku.

“Jujur sajalah Yoona. Kamu menyayanginya lebih dari sayangmu kepadaku, kan?”

“Oppa….”

“Oh, atau mungkin lebih tepatnya, kamu dari dulu menyayanginya, tidak pernah sedikitpun kamu menyayangiku?”

“Oppa…”

“Dan kamu menggunakanku hanya supaya tahu perasaan Chansung yang sebenarnya kepadamu?”

“Oppa. Hentikan..”

“Ketika Chansung putus dengan Minjae, kamu juga senang dan sangat berharap dia bisa berpaling kepadamu..”

“Oppa.. Apa-apaan ini?”

“Dan sekarang…” airmataku mulai menetes. “Sekarang ketika Chansung sudah berpaling padamu….”

Mataku menatap kedua bola matanya lekat yang sudah berair, “Kamu sudah tidak membutuhkanku lagi…”

“Lee Junho!! Stop!!” Yoona akhirnya berteriak dengan keras sehingga aku tidak bisa menyambung kata-kataku.

“Yoona, kamu tidak perlu membohongi perasaanmu. Semenjak kejadian Chansung menciummu malam itu…”

“Cium? Kamu… Kamu tahu?”

Aku mengangguk, “aku melihatnya sendiri.”

Yoona menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.

“Aku tahu perasaan kalian berdua. Kalian sama-sama saling menyayangi, tapi kalian tidak berani mengakui karena ada aku disini.”

“Oppa, bukan seperti itu…”

“Seperti itu Yoona. Kamu harus akui perasaanmu pada Chansung, sebelum ia direbut oleh wanita lain lagi. Chansung orang yang baik, dan aku tahu bagaimana perasaannya kepadamu. Lupakanlah semua yang pernah aku katakan bahwa aku tidak merestui kalian. Aku tidak mau jadi teman yang egois, aku rela jika kalian memang harus bersama.”

“Oppa, apa maksudnya?”

“Jangan pura-pura tidak mengerti Yoona. Saat ini, jika cinta harus memilih, siapa yang akan kamu pilih, dia atau aku?”

Yoona hanya diam.

“Kenapa kamu berpikir? Bukankah seharusnya sebagai pacar, kamu harusnya memilihku?”

Melihat Yoona masih diam dan menatapku, membuatku semakin sadar bahwa memang aku harus merelakannya kepada Chansung. Kebahagiaan Yoona tidak ada padaku, tetapi pada Chansung.

“Sepertinya aku tahu jawabanmu. Sudahlah Yoona, sudah saatnya kita akhiri semua ini. Aku tidak akan mengingkari kenyataan yang ada.” Aku berusaha tersenyum.

“Jadi, maksudmu….” Yoona menarik nafas panjang “Kita putus?”

Aku ingin sekali berkata tidak, tapi aku tahu itu adalah sebuah keputusan yang egois. Dengan berusaha kuat, aku memaksakan tersenyum, ”Ya. Mulai saat ini, lupakan saja semua janji dan harapan dan kenangan yang pernah kuberikan.”

Yoona terlihat kaget, mimiknya berubah-ubah. Aku tidak bisa menebak itu mimik kebahagiaan atau kesedihan. Di saat seperti ini, kepalaku tiba-tiba saja sakit, dan pandanganku mulai kabur. Aku harus segera kembali ke mobil dan meminum obatku.

“Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kamu sudah bebas dariku, just do what you want and love him as long as you can. I’m letting you go. Thanks for everything.

Aku bangkit berdiri, berjalan kea rah pintu. Yoona masih saja berada di posisinya, tidak berkata apapun akan semua perkataanku, bahkan tidak menahanku untuk menjelaskan kembali apa maksudku. Sungguh sakit kenyataan ini. Bukan lagi kepalaku yang sakit, tapi hati ini juga menderita kesakitan.

Aku langsung menuju mobilku, meminum obatku, lalu beristirahat sejenak di mobil. Setelah dua puluh menit, aku merasa baikan, aku bergegas kembali ke apartemenku. Sepi, sendiri, tidak ada orang disana. Aku masuk kamarku dan menguncinya. Di dalam aku hanya teringat semua momen kenanganku dengan keluargaku, dengan Jessica dulu, dengan semua anggota, dengan Yoona. Terlintas kembali kata-kata dokter di kepalaku.

“Tindakan dok?”

            “Ya, seperti operasi pengangkatan. Dan harus dilakukan secepatnya sebelum tumor ini semakin parah.”  

            “Apakah kemungkinannya akan sembuh,Dok?”

            “Hem… Belum tentu 100%, tapi pasti ada kemungkinan sembuh.”

            “Berapa persen ,Dok?”

            “Ya, kalau dilihat dari penyakitnya… Mungkin hanya sekitar 60%.”

            “Bagaimana jika saya tidak mengambil tindakan itu?”

            “Anda yakin? Anda masih sangat muda sekali. Sungguh sayang jika Anda tidak mengambil tindakan penyembuhan itu.”

            “Jika saya tidak mengambil, apa resikonya?”

            “Hidupmu akan menjadi sangat singkat,Nak.”

            “Si..Singkat..?”

            “Ya, saya perkirakan…. Hanya 3 bulan kamu mampu bertahan hidup.”

Air mataku kembali menetes. Aku terduduk di lantai, di samping tempat tidurku. Meratapi nasibku yang tidak baik.

Aku mengambil HPku, mengetikkan sebuah sms,dan setiap kata yang tertulis di situ, membuat hatiku sesak.

To : Chansung

She’s yours. I’m done with her. You can have her as your gf. Tidak usah pikirkan aku, aku baik-baik saja. Asal kalian berbahagia, I’m happy too. Love her like you love us and yourself.

Sesaat kemudian Chansung membalas sms-ku.

From : Chansung

Junho~ah.. Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba begini? Barusan aku menelpon Yoona, dia hanya diam dan tidak berkata apa-apa tentangmu. Junho, jelaskan padaku apa yang sedang terjadi?

Ingin rasanya aku menceritakan apa yang sedang terjadi, tapi aku tidak bisa. Aku harus bersikap tegar!

To : Chansung

Semua baik2 saja. Aku hanya menyadari, bhw kalian saling menyayangi dan aku tidak bisa melarang klian. Aku tidak mw egois shg kalian mbohongi prasaan kalian.

Tidak lama kemudian, sebuah sms masuk ke HPku.

From : Chansung

Perasaan apa ini, mksdmu?

To : Chansung

Perasaan cinta kalian Chansung. Aku sdh mnyadarinya dr awal. Sudahlah. Tdak perlu brbasa-basi, aku tahu kmu sdkit lega skrg. Tnang saja, aku tidak mengganggapmu ‘penjahat’ atau apapun. Kamu tetap shabatku dan adikku yang terbaik.

From : Chansung

Kita hrus membicarakan ini begitu aku sampai apartemen!

To : Chansung

Tidak ada yg perlu dibahas. Kmu tau jelas apa mksdmu. Yg pasti jgn smpai kmu menyesal Chansung. Please, harapanku hny 1 : kmu mbahagiakan Yoona, yg mana itu adlh hal yg tdk bs kulakukan.

From : Chansung

Kenapa kamu bpikir bgtu ?

To : Chansung

Krn smua sudah jelas, Yoona mencintaimu, Hwang Chansung. Bukan aku, Lee Junho. Admit it! Stiap ia bersamaku, ia tdk menemukan kebahagiaan. Tolong Chansung, jgn mpersulit keadaan lagi. Aku sudah tulus melepasnya.

Kali ini, Chansung tidak cepat membalasnya. Ada sekitar lima belas menit, sms balasan baru masuk ke HPku. Dan aku tersentak melihat kalimat balasan itu. Padahal itu yang daritadi kumau, tapi kenapa ketika mendapatkannya, aku malah semakin sakit.

From : Chansung

Klo memang itu yg kmu mau. Baiklah. Aku psti akan mbahagiakan Yoona. Thx!

 

7 thoughts on “CHAPTER IV – [TRIANGLES LOVE]

  1. huuwaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    sediihhhhhhhh
    nangis baca ini
    T.T

  2. Sumpah bikin penasaraaaan… lanjutan Bab 5 dong Minn,,,🙂

  3. Nangis bacanya kasian bgt oppa kalo bisa jgn mati dong T.T

  4. ahhh mimin menyedihkan banget deh. itu si yoona udh dapetin junho,malah berpaling ke yg lain. hiks. mending junho ama aku aja dah,,😀

  5. aku terharu .
    kshnya sama bgt kyk ksh ku dulu
    tpi gag ada pnyakit tumor kyk gt T.T

    junho oppa kshan
    udh d skti ,, skt pula
    Aaaah my namja😦

  6. Aaaa mewekT^T gatau mau seneng kaya ChansungYoona apa mau sedih kaya Junho baca ini ff;___;

  7. koq aku ngerasa ga nyambung yah? Kan ayah nya chansung meninggal trus koq langsung ke tumor otak nya junho ?? Atau aku nya ajah yg ga nyambung ??????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s