TRIANGLE LOVES – [BAB 3]

[Yoona Part]

                “Chansung-ah….” Aku mengetuk pintu kamarnya pelan-pelan. Aneh, sudah siang seperti ini, kenapa sepi sekali ya? Tadi begitu datang saja, ia hanya bertemu dengan Wooyoung (kebetulan tadi Wooyoung yang membukakan pintu)

Aku membuka kamar Chansung karena daritadi Chansung tidak menjawabku. Kutemukan Chansung masih berbaring di tempat tidurnya.Kamarnya sangat berantakan. Dari dulu dia tidak pernah berubah, selalu berantakan sejak ia masih kecil sampai sudah menjadi artis seperti ini. Aku berjalan mengendap-endap, berharap dia tidak terganggu oleh kehadiranku yang tidak diundang ini. Aku mulai merapikan baju-baju kotor yang tersebar di lantai kamarnya, lalu berpindah ke rak bukunya yang sudah tidak karu-karuan. Selesai membereskan lantai kamarnya dan rak bukunya, aku duduk di kursi belajarnya, lalu mendekati kasurnya.

Kuperhatikan perlahan mukanya yang seperti anak-anak itu. Aku senyum-senyum sendiri melihatnya. Chansung sangat tampan rupanya. Hidungnya mancung, bibirnya tipis, mukanya sangat bersih, rambutnya dicat merah dan poninya jatuh diatas dahinya. Chansung menggeliat, mengubah arah tidurnya ke arahku. Rasanya sudah lama aku tidak memperhatikannya sedang tidur seperti ini, dulu waktu kecil , kami bahkan pernah tidur bersama. Chansung yang lebih tua dua tahun dariku, selalu melindungiku kemanapun. Sekarang kami sudah dewasa, mempunyai privacy masing-masing, sehingga banyak yang tidak kukenal darinya.

Jemariku dengan berani membelai  rambut Chansung. Merapikan poninya yang jatuh ke depan. Tanganku mulai menyentuh matanya yang besar itu, menyentuh hidungnya, sampai ke bibirnya dan anehnya tiba-tiba hatiku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aneh, kenapa aku malah semakin merindukan Chansung ya? Sejak malam dimana ia….

Momen dimana ia menciumku langsung terlintas di kepalaku. Aku menarik tanganku dari situ namun tetap memperhatikannya dengan detail. Semenjak kejadian malam itu, perasaanku tidak karuan. Semua campur aduk. Chansung yang selalu ada untukku, kapanpun aku butuhkan, sekalipun aku menelponnya tengah malam, Chansung selalu siap. Dulu kupikir itu karena kami berhubungan sangat dekat selama tujuh belas tahun, tapi ternyata Chansung benar-benar menyimpan perasaan kepadaku. Kalau boleh jujur, aku juga dulu menyukai Chansung semenjak SMA, namun seiring berjalannnya waktu, perasaan itu sudah bisa kutenggelamkan. Seiring dengan beberapa kali Chansung mengenalkan pacarnya yang cantik-cantik itu, aku merasa tidak pernah ada harapan untuk bisa bersanding dengan pria setampan dirinya.

“Sampai kapan kamu mau menatapku seperti itu, Yoona-ah?”

Lamunanku buyar ketika mendengar suara berat itu memanggil namaku. Aku melihat Chansung sudah membuka matanya dan duduk tepat di depanku. Astaga! Kenapa aku bisa tidak tahu Chansung sudah bangun dari tidurnya.

“Ngapain kamu kesini?” Chansung berdiri dari tempat tidurnya, berjalan kea rah pintu kamarnya.

“Lagi bosen aja dirumah. Emang gak boleh ya main kesini?” Aku beranjak dari tempat tidur merapikan tempat tidur Chansung. Sikapku sudah seperti isteri yang merapikan tempat tidur sehabis suaminya bangun. Wait?! Isteri? Mikir apa aku ini.

“Baju ku yang dibelakang pintu mana ya?” Chansung berusaha mencarinya. Sepertinya Chansung merasa agak transparan karena hanya mengenakan kaos dalam. Aku baru tahu kalau badan Chansung ternyata begitu bagus.

“Udah aku masukkin tempat kotor.” Jawabku tanpa merasa bersalah.

Chansung hanya bisa geleng kepala, lalu memintaku untuk melempar jaket biru tuanya yang ada di kursi. Aku mengambil jaket itu lalu memeluknya,”Gak boleh ah.”

Chansung yang tadinya sedang berkaca , balik badan menghadapku,”Kok gak boleh?Itu kan jaketku.”

Aku kembali menggeleng,”Udahlah begitu saja. Udah siang kok pake jaket, kan panas?”
“Ini gak sopan Yoona , didepanmu, masa hanya pakai kaos dalam?”

“Gak apa-apa,Channie bearku. Dulu kamu malah gak pake baju terus nari-nari di depanku.”

Chansung kaget dan langsung tertawa,”Itu kan waktu aku masih umur empat tahun. Sekarang aku sudah dua puluh dua tahun. Kemarikan jaketku.”

“Gak mau.” Aku tetap memeluknya. Chansung menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu, lalu tiba-tiba saja ia berlari kearahku yang sedang duduk bersila diatas tempat tidurnya.

“Kyaaaaaa…” aku kontan berteriak ketika Chansung mendatangiku dan berusaha menggelitikku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menahan jaketnya, walaupun Chansung dengan sangat keras menarik jaketnya. Kami berdua ‘berperang’ diatas tempat tidurnya sambil tertawa cekikikan. Alhasil, Chansung berhasil mengambil jaketnya dan memakainya langsung. Aku pun merapikan rambutku dan kembali duduk di sebelahnya.

 

 

 

 

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu ngapain kesini?” Tanya Chansung dengan nada yang sedikit menaik.

“Kan aku kangen sama kamuu..” Aku mengucapkan dengan aegyo dan menyenggolnya tapi Chansung tidak bereaksi.

“Chansung-ah…”

“Hemm..”

“Kamu gak rindu padaku?”

Chansung tersenyum sinis,”Biasa saja.”

Sedikit tersentak mendengar pernyataannya. Chansung berubah tiba-tiba jutek, tidak biasanya dia bersikap seperti ini kepadaku. Sikapnya yang dingin seperti ini malah membuatku semakin merindukannya. Aku pun memberanikan diri memeluknya dari samping.

“Hey. Kamu ngapain?” Chansung berusaha melepaskanku.

“Chansung-ah.. Jangan galak-galak padaku.”

“Iiiya.. Tapi ini kamu ngapain?”

“Kan aku udah bilang, aku kangen sama sahabatku.”

“Iya, tapi kan gak usah pake peluk-peluk.Lepasin, Yoona.” Chansung berusaha melepaskan tanganku yang merangkulnya dari samping dan aku bersikeras mengencangkan pelukanku.

“Kalau kamu gak melepas pelukanmu, aku cium nih ya??” Chansung mengancamku.

Aku bukannya ketakutan, malah mengangkat mukaku dan membuat Chansung kaget,”Coba aja kalau berani. Nih cium!”

Chansung memerhatikanku selama beberapa detik, kemudian dia membuang mukanya.”Yoona,aku tidak ada waktu main-main seperti ini.”

Diperlakukan jutek seperti itu, aku melepaskan pelukanku, kembali duduk seperti semula.

“Junho, tahu kamu disini?”

Aku menggeleng,”Gak.”

Chansung menengok ke arahku,”Junho dimana?”

Aku menggeleng lagi,”Gak tahu juga.”

“Kok? Memangnya kamu tidak dikabari ?”

“HPku mati dari tadi pagi. Mungkin dia menelponku, tapi pasti tidak tersambung.” Ucapku santai.

Chansung berdiri, ia berjalan ke depan pintu,”Lebih baik kamu keluar dari kamarku. Bahaya jika Junho tahu pacarnya ada di kamar ini.”

“Gak mau.”

“Yoona, please.”

“Kenapa sih,Channie? Daritadi kamu menyuruhku untuk pergi darimu?”

“Aku hanya menjaga perasaan Junho.” Chansung membuka pintu kamarnya.

“Dan kamu tidak mau menjaga perasaanku?”

Chansung melihat kearahku. Ia menutup pintu kamarnya dan berdiri disitu, “Perasaan apa maksudmu?”

“Daritadi aku bilang, aku merindukanmu. Kamu terus mencuekiku.”

“Kamu memang mengharapkan balasan apa dariku?”

“Tidak bisakah kita pergi keluar bersama ?”

Chansung menggeleng,”Tidak bisa.”

“Sebagai sahabat?”

“Aku sibuk, Yoona. Kegiatanku banyak. Aku harus segera siap-siap. Jika kamu memang ingin pergi keluar, kamu bisa ajak Junho kan?”

Aku memandangnya dari tempatku duduk, walaupun kami berada di ruangan yang sama, tapi Chansung yang sekarang tidak lagi Chansung yang kukenal.

“Bagaimana dengan malam itu,Channie?”

“Malam yang mana?”

“Malam dimana kamu menciumku.”

Chansung tersentak kaget, aku bisa lihat dari cara berdirinya yang langsung berubah.

“Oh, malam itu. Lupakan saja. Itu sebuah kesalahan. Mungkin karena aku sudah lama tidak mencium wanita semenjak putus dengan Minjae, kelakukanku jadi aneh. Aku saja tidak ingat pernah melakukan itu. Sudahlah tidak usah dibahas, lebih baik kamu keluar dari kamar ini, aku juga mau mandi.” Chansung mengambil handuknya dari lemari lalu meninggalkanku sendirian.

Malam itu memang sudah berlalu lama, tapi entah kenapa aku selalu teringat akan kecupanmu,Channie. Tidak semudah itu berkata lupakan, setelah berapa lama waktu yang pernah kita habiskan bersama. Mungkin aku juga salah, aku telah memiliki Junho, tapi entah kenapa hatiku terus meneriakkan namamu,Channie.

Aku mengambil tasku, kulihat HPku, tapi sama sekali tidak ada niatan untuk menyalakannya. Aku pergi keluar dari kamar itu, kulihat Wooyoung masih seru bermain laptopnya di ruang tamu.

“Ehmm. Wooyoung Oppa, kamu lihat Junho dimana?” tanyaku pada Wooyoung.

Wooyoung melihat ke kanan-kiri,”Tidak ada di ruang tamu, dari tadi hanya aku sendiri disini.”

Astaga, WooYoung! Aku juga tahu kalau itu. Daritadi aku datang, kamu juga sendirian di ruang tamu.

“Apakah mungkin dikamarnya?” tanyaku pada Wooyoung.

“Mungkin, daritadi pagi aku belum melihat kamarnya terbuka. Coba saja masuk kesana.”

Aku mengangguk lalu mengetuk kamarnya tetapi tidak ada jawaban. Langsung saja kubuka pintu kamarnya. Mataku terbelalak melihat isi kamar Junho.

“Astaga! JUNHOOOO..!!!”

Aku tersentak kaget melihat badannya tergeletak di lantai ditambah dengan beberapa pil  yang berantakan dan gelas yang pecah. Dari hidungnya ada darah, bibirnya sangat pucat. Aku langsung mendekati badannya, memegang kepalanya. Badan Junho sangat panas, tampaknya ia demam tinggi, sehingga ia mimisan dan jatuh pingsan ketika mau mengambil obat. Wooyoung yang mendengar teriakanku, langsung menghampiri kamar Junho.

“Oh my God! Apa yang terjadi, Yoona?” Wooyoung mendekati badan Junho dan memegangnya.

“Aku gak tahu. Tolong Oppa, tolong Junho. Kita harus membawa dia ke rumah sakit.”

Wooyoung mengangguk. Wooyoung lalu keluar kamar,mengetuk kamar Chansung berulang kali. Aku mendengar Wooyoung menjelaskan keadaan Junho pada Chansung dan meminta bantuan Chansung untuk membawa Junho ke rumah sakit. Kudengar derap langkah ke kamar Junho.

“Junho!” Chansung berlari kedalam kamar.

“Ada apa dengan Junho, Yoona?”

“Aku gak tahu , Channie. Tolong…” Aku hanya bisa menangis melihat keadaan Junho seperti ini.

Chansung langsung menggendong Junho dan membawanya keluar dari kamar.

“Hyung, tolong ambilkan kunci mobilku.”

Wooyoung berlari ke kamar Chansung lalu memberikannya pada Chansung.

“Chansung, aku ikut.” Wooyoung menarik baju Chansung.

“Tidak usah, lebih baik kamu tunggu disini. Nanti tolong beritahu yang lain. Biar aku dan Yoona yang mengantarnya.”

[Chansung part]

Sinar matahari siang telah menembus jendela kamarku. Ingin rasanya membuka mataku tapi rasanya aku masih ingin tidur. Tiba-tiba saja aku merasakan ada sentuhan lembut di kepalaku. Mulai dari mengelus rambutku, memegang kepalaku, hidungku sampai meraba bibirku.

Yoona. Sedang apa dia disini?

Hatiku berdetak kencang mendengar setiap hembusan nafas dari Yoona. Aku tahu betul saat ini Yoona pasti sedang duduk di depanku dan memperhatikanku. Kebiasaan yang selalu ia lakukan dari sejak kecil.  Kebiasaan yang aku rindukan sebenarnya. Semenjak dewasa, kami memiliki privacy masing-masing dan jarang menghabiskan waktu bersama seperti dulu.

Aku teringat kejadian malam itu. Sudah seminggu berlalu ketika aku tiba-tiba menciumnya dan ketahuan oleh Junho. Sudah seminggu juga berarti semenjak aku menghindar darinya. Tidak pernah membalas setiap pesan masuk, juga mengangkat telepon darinya. Jahat memang, tapi itu semua kulakukan demi kebaikannya, demi menjaga hubungannya dengan Junho.

Aku membuka mataku dan mendapati Yoona masih didepanku , menatapku dengan kedua bola matanya yang sangat indah.

“Yoona-ah..”

Yoona tidak menjawab. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu sampai-sampai panggilanku pun tidak dihiraukannya.

“Yoona-ah.. Yoona-ah..” Aku melambai-lambaikan tanganku di depan mukanya,namun ia tidak menggubris keberadaanku.

Apakah Yoona sedang memikirkanku? Jangan gila Chansung! Dia mencintai Junho bukan dirimu.

“Sampai kapan kamu mau menatapku  sepeperti itu, Yoona-ah?”

Yoona terlihat kaget. Ia menjauhkan badannya dariku dan berusaha menutupi dirinya yang sedang malu. Padahal tanpa ditutupi, aku tahu jelas dia sedang malu, karena mukanya yang berubah merah. Sangat cantik menurutku.

“Ngapain kamu kesini?” tanyaku sedikit jutek sambil berdiri meninggalkan tempat tidurku.

Aku berjalan mendekati pintu kamarku. Aku mencari-cari baju ku yang biasanya ada di belakang pintu, tapi tidak kutemukan. “Bajuku dimana ya?”

Yoona berkata bahwa baju-bajuku sudah dimasukkannya ke tempat pakaian kotor. Tidak mungkin aku hanya memakai kaos dalam dan celana trainingku di depannya. Selain aku malu, aku rasa juga tidak sopan. Aku melihat jaket biru tuaku berada di kursi belajarku.

“Tolong lemparkan jaketku.”

Yoona mengambilnya tapi tidak memberikannya. Dia malah memeluk jaketku dengan erat. Walaupun sudah kuminta beberapa kali, dengan aegyonya dia tetap memeluk jaketku. Yoona malah berakting sangat imut dan membuatku tidak tahan untuk mengusilinya juga. Aku berjalan ke arahnya dan menggelitikinya agar bisa mendapatkan jaketku. Yoona berteriak dengan kencang di telingaku. Sudah lama aku tidak bermain seperti ini dengannya. Aku memeluknya dari belakang supaya mendapatkan jaketku. Ingin rasanya aku berlama-lama seperti ini, tapi tidak mungkin juga. Tiba-tiba muka Junho muncul di benakku, aku langsung menarik jaketku dengan cepat dan memakainya.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu ngapain kesini?” Tanyaku dengan nada yang sedikit menaik.

“Kan aku kangen sama kamuu..” Yoona mengucapkan dengan aegyo dan menyenggol badanku.

“Chansung-ah…” Yoona memanggilku dengan lembut.

“Hemm..”

“Kamu gak rindu padaku?”

Sangat rindu, Yoona. Ingin aku berkata seperti itu, tapi sekali lagi muka Junho muncul di benakku sehingga aku berpura-pura sinis kepadanya,”Biasa saja.”

Tiba-tiba saja, Yoona memelukku dari samping.

“Hey. Kamu ngapain?” Aku berusaha melepaskannya.

“Chansung-ah.. Jangan galak-galak padaku.”

“Iiiya.. Tapi ini kamu ngapain?”

“Kan aku udah bilang, aku kangen sama sahabatku.”

“Iya, tapi kan gak usah pake peluk-peluk.Lepasin, Yoona.” Aku berusaha melepaskan tangannya yang merangkulku dari sampan tapi aku malah merasa Yoona bersikeras mengencangkan pelukannya.

Aku berusaha mengancamnya dengan sesuatu yang tidak disukanya, “Kalau kamu gak melepas pelukanmu, aku cium nih ya??”

Yoona bukannya ketakutan, malah mengangkat mukanya kepadaku,”Coba aja kalau berani. Nih cium!”

Saat itu, jika aku mau, jika aku tidak mengingat di kamar sebelah ada sahabat baikku – Lee Junho, aku pasti sudah mencium bibir mungil yang ia sodorkan kepadaku. Tapi aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama lagi untuk kedua kalinya, aku tidak mau Junho sakit hati untuk kedua kalinya – sama seperti ketika Junho disakiti oleh Jessica yang berkhianat dengan sahabatnya.

Aku pun terpaksa bersikap acuh, membuang muka,”Yoona,aku tidak ada waktu main-main seperti ini.”

Segera aku mengalihkan pembicaraan dengan menanyai keberadaan Junho. Sekaligus aku mengecek, apabila Junho ada di kamarnya yang berada di sebelahku, berarti Junho mendengar semua perkataan kami daritadi. Anehnya, Yoona malah belum ada berkomunikasi dengan Junho. Pernyataan yang sangat membuatku kaget, Apakah ini pertanda Yoona menjadi suka padaku dan menjauhi Junho?

Aku bergerak menjauhi Yoona. Yoona tiba-tiba mengingatkanku lagi mengenai masalah ciuman malam itu.

“Bagaimana dengan malam itu,Channie?” Tanya Yoona tiba-tiba ketika aku menyuruhnya meninggalkan kamarku.

“Malam yang mana?” tanyaku pura-pura.

“Malam dimana kamu menciumku.”

Aku berpura-pura kaget, supaya ia berpikir bahwa aku telah melupakan kejadian malam itu, padahal sedetikpun tidak kulupakan ciumanku malam itu. Tapi tidak mungkin juga aku mengakuinya, aku takut jika Yoona tiba-tiba menjauh dariku. Lebih baik aku mengatakan kebohongan untuk menyelamatkan hubungan persahabatan kami.

“Oh, malam itu. Lupakan saja. Itu sebuah kesalahan. Mungkin karena aku sudah lama tidak mencium wanita semenjak putus dengan Minjae, kelakukanku jadi aneh. Aku saja tidak ingat pernah melakukan itu. Sudahlah tidak usah dibahas, lebih baik kamu keluar dari kamar ini, aku juga mau mandi.” Aku mengambil handukku dari lemari lalu meninggalkannya sendirian.

Di kamar mandi, aku baru merasakan perasaanku yang kuat terhadap Yoona. Langsung kunyalakan shower kamar mandi, dan aku membasuh badanku dengan air dingin. Kudengar pintu kamarku yang di seberang kamar mandi ini , ditutup. Kudengar juga ia menyapa Wooyoung dan mulai menanyakan Junho. Baguslah kalau ia menyadari tugasnya sebagai seorang kekasih.

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Yoona melengking, meneriaki nama Junho dengan keras. Aku segera mempercepat mandiku agar aku tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Tepat ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Wooyoung sedang mengetuk pintu kamarku.

“Oh hyung, ada apa?”

“Junho pingsan!”

“Pingsan?” tanyaku bingung. Seingatku kemarin sore, kami semua masih bisa tampil di  acara TV.

Wooyoung mengangguk,”Dari hidungnya juga keluar darah.”

Aku panik mendengar kenyataan itu, handukku pun langsung kulempar ke kamar, dan aku berlari menuju kamar Junho. Kulihat disana, Yoona sedang memangku kepala Junho. Yoona menangis sambil membersihkan darah dari hidung Junho.

“Channie.. Tolong…”

Melihat keadaan Junho yang sangat lemah dan tangisan Yoona , aku semakin sadar bahwa aku tidak bisa merebut Yoona dari Junho. Dengan sigap aku langsung mengangkat Junho, dan membawana ke rumah sakit bersama dengan Yoona.

Yoona duduk di belakang bersama Junho. Ia merangkul Junho dengan erat. Dari kaca mobil, kulihat Yoona mencium kepala Junho lalu mengelus kepala Junho. Terlihat sekali Yoona sungguh menyayangi Junho, lebih dari mantan pacarnya yang brengsek itu. Aku mengalihkan pandanganku dari situ, berusaha konsentrasi menyetir mobilku agar tiba di rumah sakit dengan cepat.

Sesampainya di rumah sakit,Junho dilarikan ke bagian UGD. Aku dan Yoona menunggu diluar. Bahu Yoona bergetar ketika melihat Junho ditangani oleh dokter. Belum pernah aku melihatnya begitu rapuh seperti ini. Aku merangkulnya dari samping,”Junho pasti akan baik-baik saja.”

Yoona melepaskan tanganku,”Tinggalkan aku sendiri.”

Jujur aku kaget tiba-tiba Yoona berkata seperti itu. Tadi dia terlihat seperti gadis yang lemah, tapi dalam beberapa jam dia tiba-tiba berubah menjadi gadis yang tidak kukenal.

“Kamu membutuhkanku untuk menemanimu disini sampai Junho sadar.”

Yoona menggeleng,”Bukankah kamu yang berkata ingin menjaga perasaan Junho. Jadi tidak usah pedulikan perasaanku yang membutuhkanmu sekarang,”

“Yoona, kasus ini berbeda dengan yang tadi.”

Yoona melihat ke arahku,”Apa bedanya, Channie?! Kamu tidak maukan melukai perasaan Junho? Kamu lebih memikirkan perasaannya dibandingkan menghargai perasaanku sendiri?”

Yoona membuang mukanya,”Mungkin kalau yang pingsan tadi aku… Kamu tidak akan mengantarkanku. Heh.. Ternyata hanya segitu arti persahabatan kita selama tujuh belas tahun.”

Aku kaget mendengar kata-kata Yoona. Yoona harus tahu bahwa aku tidak bermaksud untuk melukai perasaannya. Aku hanya ingin yang terbaik bagi mereka berdua, tapi mengapa sikapku disalah artikan seperti ini.

Yoona melanjutkan lagi perkataannya,”Lebih baik kamu tinggalkan tempat ini. Aku tidak mau ketika Junho tersadar, ia malah semakin sakit karena mendapati kita berdua.”

Aku sangat kaget mendengar kalimat tajam itu keluar dari mulut seorang Yoona yang manis. Dengan berat hati, aku terpaksa melangkahkan kakiku menjauhi dirinya. Satu dua langkah ke depan, semua terdengar baik-baik saja. Ketika aku melangkahkan kakiku lagi, kudengar suara isak tangis darinya. Ingin rasanya aku membalikkan badanku, dan memeluknya saat ini, tapi kumantapkan langkahku untuk maju ke depan. Tiba-tiba saja kudengar suara pintu terbuka dan Yoona tampak sedang berbicara dengan dokter yang tadi menangani Junho. Kubalikkan badanku dan kulihat Yoona tersenyum dengan riang mendengar berita yang dibawakan dokter itu.

Senyum indah itu, senyum yang sama ketika Yoona lulus SD, SMP dan SMA. Senyum yang sama ketika ia pertama kali pacaran. Senyum yang sama ketika aku memberikannya pistol mainan air. Senyum yang sama ketika kami mendapatkan makanan dari Nanny Choi. Senyum yang sama itu, baru kulihat lagi saat ini, saat dimana ia mendengar Junho baik-baik saja. Yoona memang mencintai Junho,bukan aku, Hwang Chansung.

[Junho part]

Kepalaku sangat pusing. Badanku menggigil. Aku merasa duniaku bergoyang. Entah penyakit apa yang menimpaku saat ini. Di kepalaku terlintas senyuman indah Yoona. Aku mengambil HPku dan menekan nomor satu, nomor HP Yoona, kekasih tersayangku.

Tidak aktif lagi? Sudah dua hari Yoona menon-aktifkan HPnya. Ada apa sebenarnya?

Aku berusaha sekuat mungkin untuk duduk di tempat tidurku, tapi pandanganku buram. Badanku panas sekali, dan aku bahkan tidak kuat untuk duduk. Aku melihat obat demam yang ada di atas meja kayuku. Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk berdiri dan mengambilnya. Ketika aku berhasil berjalan kea rah mejaku, tiba-tiba aku melihat ada tetesan darah jatuh diatas meja. Aku langsung memegang hidungku.

Mimisan?

Tiba-tiba saja pandanganku gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa dan kakiku keram. Aku bahkan tidak bisa merasakan kakiku menapak di tanah. Sekujur tubuhku bergetar dan aku merasakan badanku terbanting dengan kencang ke lantai. Mataku tertutup, tapi aku tidak tidur. Aku mendengar sayup-sayup pembicaraan orang di kamar sebelah.

Yoona? Kenapa suara Yoona ada di kamar Chansung? Apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa Yoona tertawa dengan bahagia? Yoona, tolong aku.

                Aku ingin sekali menggerakkan tubuhku, tapi aku tidak mempunyai kekuatan. Masih kurasakan darah mengalir dari hidungku, dan energiku semakin habis. Mata ini seperti lengket hingga aku tidak bisa membukanya sedikitpun. Aku kesakitan saat ini. Tidak berdaya.

Tidak berapa lama, tiba-tiba aku merasa ada yang mengetuk kamarku. Orang itu membuka kamarku lalu berteriak dengan keras melihatku. Yoona. Itu suara Yoona. Yoona pasti kaget melihatku seperti ini. Yoona menghampiriku, ia meletakkan kepalaku diatas pangkuannya. Yoona menangisiku dan kemudian melap darah yang keluar dari hidungku.

Tiba-tiba lagi aku mendengar suara Chansung dari sampingku. Aku merasakan Chansung sedang menggendongku. Chansung dan Yoona membawaku ke rumah sakit. Aku yakin saat ini aku pasti sudah berada di atas kasur rumah sakit. Aku merasakan dokter dan para perawat sedang berusaha menyembuhkanku. Mereka menyuntikkan sesuatu di tanganku sampai dua kali. Aku merasakan adanya obat yang mengalir di tubuhku, dan aku mulai merasa baikan.

“Lee Junho…”

Mataku terbuka perlahan-lahan. Aku melihat sinar lampu yang sangat terang diatas bola mataku. Aku memperhatikan sekelilingku,”Ini dimana?”

Dokter wanita itu tersenyum,”Baguslah kalau kamu sudah sadar. Tadi keadaanmu lumayan parah. Kamu tidak sadarkan diri tapi juga tidak pingsan. Untuk kamu bisa segera di selamatkan.”

“Saya di rumah sakit,Dok?”

Dokter itu mengangguk,”Kalau begitu saya kabari pacar Anda dulu ya. Anda istirahat disini.”

Aku hanya bisa mengangguk lemas. Walaupun aku sudah bisa membuka mataku, tapi badanku masih terasa sangat lemas. Baru saja aku mau menidurkan diriku, tiba-tiba kulihat Yoona berlari kesampingku.

“Oppa!!” Yoona langsung memelukku.

Aku mengangkat tanganku perlahan, dan membelai rambutnya yang halus itu.

“Oppa, aku minta maaf. Aku minta maaf kalau dua hari ini aku tidak menyalakan HP ku, aku tidak ada mengabarimu.” Yoona menangis.

“Gak apa-apa Yoon. Melihat kamu disini, aku sudah senang.”

“Aku yang salah. Coba kalau aku mengaktifkan HPku, kamu pasti tidak perlu sampai seperti ini.”

“Sudahlah Yoon. Chansung mana?”

Yoona mengangkat kepalanya.,”Kamu.. Kamu tahu darimana kalau Chansung ikut ke sini?”

Aku tersenyum,”Aku tahu semuanya. Dia dimana?”

“Aku sudah menyuruhnya pulang.”

“Pulang?” tanyaku heran.

“Ya. Aku takut kamu semakin sakit bila melihat aku dan dia berdua kesini.”

Aku senang sekali mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Yoona. Padahal kalaupun Chansung ada disini, aku mau berterima kasih karena ia telah membantu untuk menenangkan Yoona. Aku memegang tangan Yoona, lalu mengecup punggung tanggannya,”Aku senang melihatmu disini. Aku sangat merindukanmu, Yoona.”

Yoona menangguk,”Aku juga,Oppa.”

“Yoona…”

“Ya?”

“Aku lapar.”

Yoona tertawa,”Sebentar ya, Nichkhun Oppa sedang mengurus pembayaranmu dan obat-obatanmu.”

“Khun Hyung?”

Yoona menangguk,”Sepertinya Wooyoung yang menelponnya. Nichkhun juga baru saja sampai. Tepat ketika dokter keluar, ia sampai.”

Aku mengangguk. Yoona duduk di sampingku. Tangannya memegang tanganku dengan erat. Ia terus tersenyum memperhatikanku. Namun bisa kulihat matanya berair. Setetes airmata yang ditahannya jatuh juga ke pipinya. Aku melapnya dengan tanganku,”Kenapa kamu menangis?”

Yoona menggeleng,”Aku hanya senang.”

“Senang kenapa?”

“Melihatmu sadar lagi. Aku tadi sangat takut kalau… Kalau kamu meninggalkanku.”

Aku tersentuh dengan kalimatnya,sungguh, kupikir malah Yoona yang akan meninggalkanku dengan Chansung. Tapi sepertinya aku yang harus belajar mempercayainya lebih lagi. Yoona benar-benar pasangan yang kuharapkan selama ini. Aku berusaha untuk duduk dari tempat tidurku.

“Oppa, mau apa?”

“Aku ingin duduk, tolong bantu aku.”

Yoona membantuku untuk duduk di ujung tempat tidurku. Begitu duduk di tempat tidur, Yoona memberikanku minum air putih terlebih dahulu. Setelah ia membantuku minum, kupandangi ia lekat-lekat. Rasanya kekuatanku kembali begitu melihatnya tersenyum. Aku pun menariknya ke dalam pelukanku.

“Apapun yang terjadi, berjanjilah padaku Yoona, untuk tidak meninggalkanku.”

Yoona tidak menjawab.

“Yoona?”

Yoona malah membalas dengan isak tangis. Aku memundurkan badannya dari pelukanku,”Ada apa Yoona? Belakangan ini kamu terlihat aneh. Kamu seperti menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Tidak.. Tidak ada apa-apa Oppa.”

“Lalu, mengapa kamu menangis lagi?”

Yoona menghapus airmatanya dengan tangannya, “Aku… Aku hanya bingung.”

“Bingung?”

Yoona membalikkan badannya, ketika ia ingin berjalan menjauhiku, kutarik tangannya,”Apapun itu..Apapun yang kamu rasakan itu. Apapun yang telah atau akan terjadi padamu. Tolong.. Tolong jangan pergi dariku.  Please Yoona. I do love you.”

Yoona tidak membalas perkataanku.

“Do you know my feelings? Do you know how much I miss you?” Aku berusaha untuk berdiri walaupun kakiku masih sedikit lemas.

Aku memeluk Yoona dari belakang. Yoona hanya diam tidak ada membalas apapun. Disini aku sadar bahwa perasaan Yoona pasti sudah terbagi dua, antara aku dan juga Chansung. Hal yang aku takuti terjadi lagi. Mengapa kejadian seperti Jessica bisa terjadi lagi padaku?

“Don’t you remember you told me you loved me Baby? You said you’ll be coming back this way again.. Baby, baby, baby, baby, wohoo.. I love you, I really do..” Sebuah lirik lagu kunyanyikan tepat di telinganya.

Yoona berusaha melepaskan pelukanku, tapi aku berusaha sekuat tenaga agar pelukan itu tidak terlepas,”Yoona please. Don’t do this to me.”

“Oppa..” Yoona sekali lagi berusaha melepaskan pelukanku.

Aku teringat sesuatu, langsung kutembak Yoona dengan hal ini, sebelum ia meinta pergi dariku lagi, “Yoona, happy birthday.”

Yoona langsung menolehkan kepalanya kearahku. Aku pun berusaha tersenyum,”Hari ini hari ulang tahunmu yang ke dua puluh kan?”

Yoona berusaha mengingatnya,”Ya ampun. Aku lupa hari ini ulangtahun ku!”

Aku tersenyum lega, Yoona tidak lagi berusaha melepaskanku. Aku merogoh saku celanaku. Dari semalam, sejak aku membelikannya kado, aku menaruhnya di saku celanaku, dan aku belum ada mengganti celanaku. Untungnya kotak kecil itu masih ada di kantongku. Aku mengambilnya lalu memberikannya sambil mengecup pipi kanannya,”Happy birthday, Baby.”

Yoona tersenyum manis, dan membuka kado dariku. Yoona kaget ketika melihat sebuah cincin emas putih dengan beberapa butir batu sapphire diatasnya yang membentuk hati.

“Semoga kamu menyukainya.” Aku membisikkan kata-kata itu ditelinganya.

“Terima kasih Oppa.” Yoona membalas mengecup pipi kiriku.

“Hayo! Hayo. Junho ngapain??” sebuah suara mengagetkan kami berdua.

“Aah.. Hyung..” Aku melepaskan pelukanku, lalu memeluk Nichkhun yang tiba-tiba saja ada di ruangan kami.

“Katanya sakit. Tapi kok malah peluk-peluk, cium-cium?” Nichkhun menggodaku.

Ternyata Nichkhun tidak sendiri, Chansung muncul dari belakangnya. Seseorang yang tidak terlalu mau kutemui saat ini. Dengan penuh sindiran kea rah Chansung aku berkata,“Dia kan pacarku, wajar dong kalau aku memeluk atau menciumnya. Kalau dia bukan pacarku , lalu aku memeluk atau menciumnya tiba-tiba, itu baru tidak wajar,Hyung.”

Nichkhun menangguk,”Iya bener. Ayok pulang, kamu lebih baik istirahat di dorm saja.”

                Aku mengangguk lalu menarik Yoona ke sampingku. Nichkhun dan Chansung berjalan di depanku dan Yoona. Sambil melewati lorong, aku menggenggam erat tangan Yoona,”Aku tahu apa yang terjadi antara kalian. Lupakanlah keinginanmu untuk meninggalkanku, karena aku tidak akan melepasmu pada siapapun, terlebih pada sahabatku.”

 

6 thoughts on “TRIANGLE LOVES – [BAB 3]

  1. Baru baca,, langsung suka. Mudah2n update nya cepet.

  2. lanjutin dooong><

  3. Lanjuuttttttttt min… Giillaaaa envy bgt tuh ama si yoona.. Hiks. Beruntung skali nasib mu nak😀

  4. keren min ffnya >,<
    Lanjut lanjut

  5. Ini tentang Junho ya? Kok orang ke-3-nya Channie siii.. *nangis2 makan bantal*
    Aku gak mau lihat/baca Channie-ku sakit hati nantinya… Huhuhu
    cerita nya apdet lagi yah yang baguuuss, beneran, yang ini juga udah bagus! Ayo lanjutkan ya!
    *elus2 foto Chansung sambil nangis huhu*

  6. yoona lucky girl ! Envy envy chansung and junho🙂 aaaaaa i want scream🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s