TRIANGLE LOVES – [BAB 2]

[Yoona Part]

Sudah setengah tahun aku menghabiskan waktu bersama Junho sejak pertemuan pertama kami. Junho benar-benar pria yang sangat kubanggakan. Selain dari ketampanannya, dia juga ternyata lucu dan romantic. Dia sangat bisa diandalkan setiap waktu. Sepertinya malah aku yang jadi semangat karena ia, bukan aku yang menyemangatinya.

Di tengah-tengah kesibukannya, Junho selalu menyediakan waktunya untuk berkomunikasi denganku. Aku ingat sekali ketika ia di wawancarai sebelum konsernya, ketika pewawancara bertanya siapa orang yang ia ingin hubungi saat itu, ia tersenyum dengan manis lalu menyebutkan “Penyemangatku.” Awalnya aku tidak mengerti maksud itu, tetapi beberapa jam kemudian, dia mengirimiku sms.

From : Oppa^Junho

Tepat sebulan yang lalu, aku bertanya apakah kamu mau menjadi penyemangatku.. Seharusnya kamu sadar apa yang aku inginkan saat ini jika kamu mendengar hasil wawancaraku. ^.^

Hal yang paling mengagetkanku selain itu adalah dua bulan lalu, bulan Februari, momen dimana ia tiba-tiba datang ke depan apartemenku disaat aku sedang kesepian karena teman sekamarku pulang ke kampungnya di Busan. Pada saat itu juga aku sedang dalam tekanan karena pekerjaanku yang menuju deadline. Waktu itu sedang musim dingin, selain cuaca diluar sangat dingin, keadaanku juga sangat dingin. Chansung, sahabatku itu sedang pergi tur ke Amerika, bersama dengan Junho dan beberapa temannya. Mereka berdua tidak bisa dihubungi sehingga aku benar-benar kesepian selama hampir dua minggu.

********

                Biasanya setiap hari aku selalu berkomunikasi dengan Junho, walaupun hanya melalui telepon atau sms, tapi dipastikan setiap hari aku selalu mendapat perhatian dari Junho. Walaupun Chansung tidak lagi menghubungiku dengan sering seperti dulu, namun Chansung terkadang masih datang menjemputku ke kantor jika ia tidak sedang sibuk dengan  jadwalnya dan ketika Minjae sedang pergi keluar kota.

                Saat itu, aku benar-benar merindukan kedua orang itu, Chansung dan Junho. Sahabat yang sangat dekat denganku dan seseorang yang kuimpikan selama ini. Terutama ketika hari Valentine’s tiba, aku sibuk dengan segala bentuk tugasku, dan harus merayakannya sendirian. Aku melihat di jalanan, orang-orang berlalu lalang dengan pacarnya, namun aku harus pulang ke apartemenku sendirian. Sesampainya di kamar apartemenku, aku memandangi beberapa fotoku bersama Junho yang berada di meja kerjaku. Sungguh aku sangat merindukan suaranya saat itu, tatapan dan senyumannya yang selalu menghangatkanku. Aku memutar beberapa rekaman suara Junho ketika ia menelpon ku.

                “Hai. Aku baru sampai apartemen nih. Aku capek banget hari ini, tapi aku ga bisa tidur sebelum mendengar suara kamu.”

                “Baby, sedang apa… Walaupun aku ga di dekat kamu, tapi aku merasa kamu sedang ada disampingku, memeluk lenganku dengan erat. Ahh… aku semakin merindukanmu”

                “Yoonaa.. Yoonaaa… Yoonaaa.. My sunshine..”

                “Pengen ketemu Yoona-ku. Penyemangatku. Pengen peluk Yoona biar tambah semangat.”

                “Yoonaaa.. Di pagi hari, aku terbayang wajahmu dan membuatku ingin kamu selalu ada di sampingku setiap saat dan di malam hari, namamu selalu terpintas di benakku, aku sengaja sih memunculkan namamu di kepalaku, berharap supaya kamu muncul di mimpiku juga..”

                Mendengar rekaman itu, aku menumahkan air mataku. Sedikit berlebihan memang diriku, tapi entah kenapa hatiku sangat merindukannya. Dua tahun yang lalu, ketika band Chansung terbentuk, aku sudah mengidolakan Junho. Jadi jika sekarang mimpiku untuk bisa dekat dengannya terjadi, aku benar-benar bahagia, dan aku sangat berharap bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama denganku.

                Tiba-tiba saja, disaat aku menangis sambil memutar rekaman-rekamannya, bel kamarku berbunyi. Aku menaruh rekaman itu diatas meja ruang tamu dan segera membukakan pintu kamar. Sungguh aku sangat kaget ketika melihat seorang Junho berdiri di depanku dengan sebuket bunga. Sambil tersenyum, ia membuka lengannya dan berkata,”Aku pulang,Yoona..”

                Tanpa berpikir panjang, aku langsung memeluknya, tangisanku semakin menjadi saat itu. Junho memelukku kembali, mengelusk kepalaku dan membisikkan kata-kata yang menenangkanku,”I really miss you, Baby Yoona.Can’t live without you.” Junho pun kemudian mengecup dahiku dengan sangat hangat.

                Saat itu aku merasa benar-benar sangat senang. Tidak tahu apalagi yang harus kukatakan untuk memperjelas perasaan bahagiaku saat itu. Junho berkata ia juga tersiksa tidak bisa menghubungiku hampir selama dua minggu, itulah kenapa ketika ia pulang ke Korea,ia tidak minta diantar ke apartemennya, tapi minta diantar ke tempatku dulu. Dan hari itu, dia menghabiskan waktu bersamaku seharian.

                “Oppa, ini udah malem, almost 11pm, kamu harus segera pulangkan? Bukankah apartemen mu ditutup jam 10 malam?” tanyaku sambil membelai kepalanya. Saat itu, Junho merebahkan kepalanya diatas pangkuanku.

                “Aku disini saja. Aku mau menebus kesalahanku yang meninggalkanmu sendirian selama hampir dua minggu. Lagian aku masih sangat merindukanmu, Yoona.” Junho mengangkat tangannya mengelus pipiku.

                “Member yang lain, apakah mereka tahu Oppa mau menghabiskan waktu disini?Aku takut mereka marah.”

                “Chansung will cover it for me.”

                “Channie??”

                Junho yang tadinya sedang menutup matanya tiba-tiba membuka matanya. Ia mengubah posisinya jadi duduk di sampingku,”Channie?”

                “Maksudku Chansung. Chansung juga sudah pulang?”

                Junho membuang mukanya, ia berdiri menjauhiku. Ia berdiri di depan jendela ruang tamu yang menghadap keluar. Dari caranya tadi , aku baru sadar kalau ternyata Junho masih saja merasa jealous dengan Chansung. Junho berkata dengan sangat dingin,”Iya, Chansung juga sudah di Korea. Kamu juga rindu dia? Kamu hubungi saja dia, dia pasti senang mendengar suaramu.”

                Aku tertawa mendengarnya berbicara saat itu. Ternyata Junho bisa juga cemburu dengan Chansung sampai seperti itu. Junho yang mendengar tawaku langsung balik badan dan melihatku kebingungan karena tertawa semakin kencang.

                “Yoona… Jangan menertawakanku.”

                Aku masih tertawa dengan keras, sampai akhirnya Junho duduk di sebelahku dan mencubitku. Aku mengelak sebisa mungkin , masih dengan tertawa, dan Junho masih berusaha untuk mendiamiku dengan tangannya. Kami berdua bercanda gurau di sofaku, sampai akhirnya kami pun terjatuh ke karpet, dimana aku menimpa badan Junho. Junho menatapku lekat, kurasakan tangan kirinya memeluk pinggangku yang kecil, dan tangan kanannya merapikan rambutku yang jatuh ke depan. Dengan tangan kanannya ia membelai mukaku dengan lembut. Saat itu posisi kami sangat dekat, aku bisa mendengar degup jantungnya, dan merasakan hembusan nafasnya.

                “Kamu cantik sekali malam ini.” Junho memegang pipiku yang panas karenanya.

                Aku yang terbawa suasana pun tersenyum bahagia,”I love you, Oppa.”

                Junho terlihat kaget saat itu , lalu ia tersenyum dengan sangat manis. Beberapa detik kemudian, ia mendekatkan bibirnya ke bibirku, dan mengunci mulutku dengan kecupan yang panjang. Hari itu sangat indah menurutku.Kupikir hari itu akan menjadi hari Valentine yang sangat menyedihkan, tapi ternyata malah sangat indah.

*****

                Setengah tahun sudah berlalu bagi kami. Tepat dua bulan sudah kami berdua resmi berpacaran. Hari ini, kami janjian untuk bertemu di taman tempat biasa. Aku merapikan dandananku, mengecek hadiah yang kubawa untuk Junho. Junho suka sekali mengenakan jaket, maka itu aku membelikannya sebuah jaket kulit berwarna coklat muda. Aku berharap ia menyukai apa yang akan kuberikan ini.

Setibanya di tempat janjian, aku belum melihatnya. Ditengah suasana malam yang sedikit dingin, aku duduk di taman menunggunya. Setengah jam aku sudah menunggu, bukan karena Junho  yang terlambat, tapi memang aku yang datang 15 menit lebih cepat darinya. Aku berdiri dari tempat dudukku dan berjalan ke arah pembatas sungai. Malam itu, tempat itu juga sangat indah, pembatas dihiasi dengan lampu kerlap-kerlip, dan banyak bunga yang sudah bermekaran di sekitar sungai.

Di saat aku berdiri, tiba-tiba saja ada yang memeluk pinggangku dari belakang, mengecup pipi kiriku dengan sangat lama. Untung saja yang melakukan itu adalah pacarku sendiri, Junho, kalau bukan pasti pria itu sudah kulemparkan ke sungai. Sebuah boneka panda yang sedang memegang bunga mawar merah muncul disampingku, bergerak-gerak layaknya sedang berbicara.

“Kamu yang namanya Yoona ya?”

Aku tertawa, lalu Junho membisikkan sesuatu,”Kamu harus jawab kalau dia berbicara, nanti dia bisa marah kalau kamu tertawa.”

“Ya. Aku yang namanya Yoona. Kamu siapa?”

“Aku Juna. Kamu cantik sekali. Kamu sudah punya pacar belum? Kalau belum , pacaran sama Juna aja.”

“Hemm.. Aku sudah punya pacar, namanya Junho.”

“Ahh.. sayang sekali. Sudah kamu sama Juna saja, putuskan Junho.”

Aku menggeeleng,”Tidak bisa. Junho itu pria terbaik yang didalam hidupku, selain ayahku.”

Aku mendengar Junho tertawa dari belakang kepalaku.

“Sehari saja deh kamu putusin Junho, terus sama Juna, gimana?”

“Wah.. Putus sehari sama Junho sama aja kehilangan setengah jiwaku. Jadi aku gak bisa Juna.”

“Kalau antara Junho dan Chansung , kamu pilih mana?”

Aku terdiam.  Bukannya aku tidak mau memilih, tapi aku sedikit kecewa , mengapa Junho terus membandingkan dirinya dengan Chansung. Mengapa Junho masih belum percaya kalau aku memilihnya daripada Chansung? Dan bahwa aku tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap Chansung.

“Which one you choose?” Junho meletakkan boneka nya ke tanganku.

“Oppa…” Aku menarik lengannya, dan merangkulnya dengan erat,”I choose Oppa Junho over him , over everything.”

Junho tersenyum bahagia setelah mendengar itu. Telinganya memerah pertanda ia malu. Ia kemudian mengajakku untuk pergi dari tempat yang dingin itu. Kami masuk ke sebuah restoran yang tidak jauh dari situ. Kami memesan makanan dan bercanda dikala menunggu makanan. Ketika sedang makan, tiba-tiba saja HP Junho berbunyi. Junho melihat ke HPnya, dan mimic mukanya berubah. Aku menjadi curiga ketika ia bersikap aneh seperti itu, bertanya-tanya siapakah yang menelponnya.

“Ya, ini Junho. Siapa ini?”

Mimik muka Junho tiba-tiba berubah ketika mendengar suara di seberang sana. Ia menutup mukanya dengan tangannya. Aku pun berhenti makan dan mencoba mendengar pembicaraan mereka, walau tidak sempat karena Junho telah mengakhiri pembicaraannya.

“Oppa, kenapa?” aku mengelus tangannya.

Junho menatapku. Ia menarik nafas. Lalu memanggil pelayan untuk meminta bill.

                “Tapi Oppa, kita kan belum selesai makan.” Tanyaku bingung

“Aku tidak bisa menemanimu malam ini. Aku harus pergi sekarang.”

Aku menahan tangannya, “Oppa, ada apa?”

Junho menutup mulutnya, dia terlihat kebingungan dan sedih. Dari mukanya terlihat ia sedang tersiksa akibat telepon yang ia dapat tadi. Junho membuka mulutnya,”Hyoyeon….”

Aku tersentak kaget mendengar nama itu terucap di mulutnya,”Hyoyeon?”

Junho menangguk. Ia memandang keluar dengan tatapan kosong,” Tadi Minho telepon,katanya Hyoyeon kecelakaan, sekarang ia sedang kritis.”

Aku menarik tanganku,”Lalu..?”

“Minho menyuruhku kesana, karena sebelum Hyoyeon tidak sadar, ia terus menerus menyebut namaku.”

“Jadi kamu mau kesana sekarang?”

Junho menangguk,”Aku tidak bisa membiarkan Hyoyeon disana sendirian…”

“Bukankah disana ada Minho?” tanyaku dengan nada menaik.

“Tapi,ia terus menyebut namaku Yoona. Aku harus ada disampingnya sekarang.”

Hatiku sakit mendengar perkataan itu,”Disampingnya sekarang dan membiarkanku sendiri?”

“Please, Yoona. Jangan hubungkan ini dengan hubungan kita.”

“Ya jelas ada hubungannya Junho.” Aku mulai marah sampai-sampai tidak sanggup lagi memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’. “Hari ini hari jadi kita, kita baru saja bertemu, dan kamu langsung meninggalkanku hanya untuk Hyoyeon, mantan yang telah mengkhianatimu!”

“Kita kan sudah bertemu dan sempat merayakannya, aku belum ada bertemu dengan Hyoyeon. So, please, be kind. Aku harus menemaninya di ambang kritisnya.”

“Belum ada bertemu?? Jadi selama ini, kamu terus berharap Hyoyeon balik kepadamu?? Jadi selama ini, keberadaanku apa artinya??” Airmataku mulai menetes, membasahi pipiku.

“Stop Yoona! Tolong jangan memperumit keadaan. Maaf, aku harus pergi. Hyoyeon membutuhkanku.” Junho bangkit berdiri meninggalkanku sendirian disana.

“Kamu yang memperumit keadaanmu sendiri Junho. Kamu memilihnya diatasku. Padahal selama ini kamu yang mempertanyakan keadaanku dengan Chansung, tapi nyatanya malah kamu yang tidak bisa memilih.”

Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku. Hatiku sungguh sakit menghadapi kenyataan ini. Di saat hari jadi kami, ia malah mendahulukan seseorang yang telah  mengkhianatinya dibandingkan seseorang yang sangat menyayanginya.Junho pergi sebelum aku memberikan kadoku kepadanya. Hari yang seharusnya penuh dengan keindahan malah menjadi hari yang ingin kulupakan. Sesaat, kulihat HP ku bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk. Aku berharap itu Junho yang meminta maaf lalu mengatakan ia kembali kesini.

From : Channie Bear

Yoona.. Long time we haven’t meet each other. How are you? Hope you are okay there. Congratulation with Junho. Sudahkah ia memberikan surprisenya kepadamu? He trained it till this morning, he said it must be special for you. Miss you anyway, my besties.

 

[Chansung part]

Malam minggu. Biasanya aku selalu menghabiskan waktuku dengan MinJae. Saat ini, aku hanya dapat duduk di ruang tamu, bersenda gurau bersama Wooyoung dan Junsu. Nichkhun dan Taecyon memiliki acara khusus oleh dua stasiun TV yang berbeda. Junho sedang kencan dengan Yoona, dimana hari ini tepat mereka berpacaran selama dua bulan, setelah saling mengenal selama empat bulan.

“Aaah… Junho enak sekali ya, sudah memiliki pacar. Pasti mereka sedang bersenang-senang sekarang.” Ucap Wooyoung.

Aku hanya bisa tersenyum. Entah kenapa, aku masih belum percaya Junho dan Yoona sudah berpacaran. Dan selalu hatiku terasa sakit ketika member membahas hubungan mereka yang berjalan lancar selama dua bulan ini. Belum lagi kalau mendengar Junho menelpon Yoona dengan sangat romantis dan perhatian. Ya itu memang kelebihan Junho, dia sangat dewasa walaupun ia tergolong yang masih muda dibandingkan yang lain.

“Chansung-ah!” teriak Junsu.

Aku kaget mendengar teriakan Junsu-hyung,”Apa?kok teriak-teriak segala sih?”

“Junsu-hyung, daritadi sudah meneriaki namamu  tiga kali, tapi kamu tidak menjawab.” Ucap Wooyoung sambil merebut remote TV dari tanganku.

“Kamu mikirin apa? Mikirin Minjae?”

Aku tertawa,”Gak, gak mikirin apa-apa.”

“Semenjak putus dengan Minjae, kamu jadi aneh. Suka bengong dan diam sendiri.”

Aku terdiam. Bukan karena utus dengan MinJae aku jadi seperti itu, mungkin semenjak aku mendengar Junho berpacaran dengan Yoona.

“Tuh kan, sekarang kembali diam lagi. Wooyoung, sepertinya Chansung sudah mau gila.”

Wooyoung tertawa. Dengan mulut yang penuh makanan, Wooyoung mencolekku,”Kenapa bisa putus dengan Minjae?”

“Gak cocok.”

“Ah.. Percuma Tanya sekarang. Dia jawab selalu singkat.” Junsu meninggalkan kami berdua pergi ke dapur diikuti dengan Wooyoung yang ingin memasak ramen.

Sepeninggalan mereka berdua,aku kembali berpikir,kenapa aku meminta putus dari Minjae,padahal kami sudah menjalin hubungan selama setahun lebih. Entah apa yang kupikirkan waktu itu, tapi semenjak setengah tahun yang lalu, dimana aku mengenalkan Yoona dengan Junho, aku selalu memimpikan Yoona hampir setiap hari. Aku selalu merindukan Yoona, bahkan sampai detik ini. Aku berusaha mengurangi komunikasiku dengan Yoona semenjak ia berpacaran dengan Junho, karena aku tahu sifat posesif Junho. Namun, hari ini, rasa rinduku lebih dari biasanya. Aku mengambil HPku dan memberanikan diri untuk mengirimnya sebuah pesan yang tiba-tiba dibalas dengan sebuah panggilan dari Yoona.

“Hei, Yoona…”

“……….” Tidak ada suara dari sana.

“Yoona? Halo, Yoona?”

“….Chan… Chansung..” suara Yoona terdengar seperti sedang menangis.

“Yoona, apa  yang terjadi? Kamu dimana?”

Yoona masih menangis , malah semakin kencang. “Yoona, are you okay? Where is Junho? What happen??”

Yoona tidak menjawab. Telepon malah terputus. Aku semakin kuatir dengannya. Aku masuk ke kamarku, mengganti bajuku dan mengambil jaketku. Aku harus segera menemukan Yoona. Dia sedang membutuhkanku sekarang. Ketika aku menyetir mobilku, tiba-tiba sms dari Yoona datang. Yoona menyuruhku segera menemuinya di taman X, dia sendirian, Junho meninggalkannya sendirian demi Hyoyeon. Ketika membaca alasan ia sendirian, sungguh rasanya aku ingin meninju Junho saat ini, tidak peduli kami sangat dekat sebelumnya. Aku mencoba untuk menghubungi Junho, tapi HPnya tidak aktif.

Lihat saja Junho. Begitu sampai rumah, aku akan meminta penjelasan akan hal ini.

Sesampainya di taman X, aku menemukan Yoona duduk sendirian dan menangis. Yoona sangat cantik saat itu, ia mengenakan baby doll hitam yang dipadu dengan blazer putih pendek dan celana jeans biru tua beserta Boot setengah betis berwarna putih. Rambutnya diikat keatas, dan ia menggunakan anting berwarna merah hati. Ia terlihat seperti malaikat saat itu.Benar-benar menawan dan menarik seluruh perhatianku. Aku mendekatinya dan memegang pundaknya. Yoona menoleh kearahku. Yoona berdiri dan memelukku sambil menangis.

“Yoona…” Aku memeluknya dan berusaha menenangkannya.

“Channie.. Huhu.. Channie.. Junho.. Junho..”

“Sss… Jangan biacara apa-apa dulu.Tenang aja dulu yuk…” Aku mengelus kepalanya. Sungguh aku tidak tega Yoona menangis sekencang ini, lebih kencang ketika ia putus dengan pacarnya kemarin. Ini tanda bahwa ia benar-benar menyayangi Junho.

Setelah Yoona tenang, aku memberikannya minum , yang sudah kubawa dari mobil tadi. Kami kembali duduk di kursi. Yoona menarik nafas, berusaha untuk memperjelas keadaan ini kepadaku.

“Udah tenang kamu,Na?” tanyaku sambil memegang tangan kirinya.

Yoona tersenyum lalu menangguk.

“Coba dijelasin ke aku, ada apa kamu sama Junho?”

Yoona menerawang ke depan, tatapannya kosong, namun matanya meneteskan air mata. Aku melap airmata yang membasahi pipinya itu.

“Disaat kami sedang makan, tiba-tiba Junho mendapat telepon dari Minho.”

“Minho?” tanyaku bingung.

Yoona menangguk, lalu melanjutkan ceritanya,”Minho bilang, Hyoyeon tabrakan. Ia kritis. Dan ketika sampai rumah sakit, Hyoyeon selalu menyebut nama Junho berulang-ulang.”

                Hyoyeon lagi. Geez! Perempuan itu maunya apa sih?!

                “Setelah berbicara di telepon itu, Junho memutuskan untuk segera menuju rumah sakit dan menemani Hyoyeon. Dia bilang Hyoyeon sedang membutuhkannya. Hyoyeon membutuhkannya.”

Yoona terdiam, airmatanya jatuh lagi membasahi pipinya,”Padahal ia tahu hari ini adalah hari yang kami berdua nantikan. Aku juga membutuhkannya. Kamu tahu kan Channie, aku dan dia baru bisa bertemu hari ini? Seminggu ini kalian full schedule sehingga kami tidak bisa bertemu. Tapi kenapa ketika aku benar-benar menginginkannya disisiku, dia malah memilih seseorang yang mengkhianatinya??”

Aku terdiam melihat Yoona menangis. Hatiku semakin panas , kesal terhadap perlakuan Junho.

“Junho malah menanggap aku berlebihan karena marah kepadanya yang memilih Hyoyeon. Bahkan Junho belum memperlihatkan kejutannya kepadaku. Ia bahkan melupakan kejutannya kepadaku saat mendengar nama Hyoyeon.  Selama ini, aku dianggap apa olehnya? Selama ini, apakah perasaannya belum sepenuhnya kepadaku?”

Aku hanya bisa merangkul Yoona. Aku juga tidak mempunyai kata-kata apapun. Jujur , aku sangat kesal terhadap Junho yang memperlakukan Yoona. Mengapa Junho bisa bertindak segegabah ini, dia bisa saja kehilangan Yoona untuk selamanya.

Andai saja Yoona bersamaku, aku tidak akan membiarkan airmatanya turun setetes pun. Andai saja Yoona memilihku dari Junho, setiap saat dibutuhkan aku pasti akan datang. Andai saja Yoona mencintaiku bukan Junho, kupastikan harinya akan selalu dipenuhi dengan canda tawaku. Wait.. Chansung! Kenapa jadi berandai begini? Kamu jatuh cinta pada Yoona, sahabatmu sendiri?

                “Chansung, terima kasih sudah datang kesini. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu harus bagaimana..” Yoona melepaskan pelukanku. Ia merapikan bajunya dan barang-barangnya.

“Antar aku pulang ya? Aku ingin beristirahat..”

Aku menangguk, lalu merangkulnya sampai ke mobilku. Di perjalanan pulang, Yoona hanya memejamkan matanya. Tidak berbicara sepatah katapun. Sungguh aku tidak bisa melihatnya seperti ini. Ingin rasanya aku berteriak supaya ia melupakan Junho saja, tapi aku tahu itu tidak mungkin.

“Chansung, aku pengen pulang.”

“Iya ini kan aku lagi anterin kamu?”

Yoona tersenyum,”maksudku ke Ulsan. Aku rindu kampung halaman.”

“Akhirnya kamu tersenyum juga. Gitu dong. Yoona yang kukenal selalu ceria.”

“Iya.” Yoona kembali memperlihatkan senyumannya kepadaku.

“Kapan kamu mau ke Ulsan?”

“Belum tahu. Tapi aku rindu suasana disana. Ramai dan penuh canda tawa.”

“Ah, bilang saja kamu rindu bermain denganku disana.” Godaku sambil mencubit pipinya yang tembem.

“Eeeh.. Geer kamu! Aku rindu Nanny Choi. Dia kan selalu member kita makan sehabis kita main di taman. Ingat tidak?”

“Iya, aku inget. Bahkan terkadang kita lebih sering makan disana dibanding dirumah kita ya?” Aku pun tertawa.

Aku menambahkan,”Aku paling ingat ketika aku masuk SMA, aku sering pulang sore, dan kamu selalu menungguku di depan rumahku. Sampai akhirnya aku membelikan pistol air. Berharap kamu bisa bermain sendiri menggunakan itu.”

Yoona tertawa dan menutup mulutnya,”Ah.. aku ingat pistol air itu!”

“Percuma aku membelikannya, karena kamu tetap saja menungguku pulang sekolah dan mengajakku bermain pistol air. Padahal maksudku membelikanmu itu, supaya kamu bisa bermain sendiri dan tidak perlu menungguku. Hahahahaha..”

Yoona ikut tertawa .

Yoona kemudian menambahkan, “Inget gak pancuran yang di lapangan?”

Aku mengangguk,”Iya-iya. Kamu kan pernah dengan polosnya minta mandi disitu.”

Yoona kaget, matanya membesar,”Ahh gak ada ya.. Kamu melebih-lebihkan.”

“Ya ampun Yoona. Kamu kan sampe mau nangis gitu minta mandi disitu. ‘Chancung , una mau mandi dicitu.. Una mau mandi cama yang lain. Una mau itut.’ Hahahahaha..”

“Aaaahh… Chansung!” Yoona memukul-mukul tubuhku dari samping dengan mukanya yang memerah.

“Eh,udah udah, aku lagi nyetir, entar kita bisa kecelakaan loh.”

Yoona menarik tangannya. “Kangen yah saat-saat itu. Jadi semakin ingin pulang ke Ulsan.”

“Iya, aku juga rindu rumah tiba-tiba.”

“Yuk, berlibur kesana yuk!”

“Kapan? Mulai besok, aku dan yang lain mulai latihan rutin lagi, udah mau comeback stage soalnya.”

“Yang lain? Junho…..” tiba-tiba muka Yoona berubah menjadi sedih lagi setelah mengucap nama itu. Tahu begitu tadi tidak perlu kusebutkan masalah latihan rutin.

“Yoona, sudah jangan sedih lagi ya. Aku jadi merasa bersalah.”

“Iya.” Yoona memaksa tersenyum.

Mobilku pun tiba di depan apartemennya. Kami keluar dari mobil. Yoona masih dengan diam nya, sepertinya dia teringat lagi dengan Junho barusan. Mimik mukanya kembali sedih seperti disaat aku bertemu dengannya tadi.

Yoona menyerahkan sesuatu dari tangannya, seperti sebuah kado yang besar,”Chansung, titip ini.”

Aku mengambilnya,”Untuk Junho?”

Yoona mengangguk. “Kamu tahu apa yang aku pikirkan daritadi?”

Aku menggeleng,”Apa?”

Yoona membuang pandanganya. Hidungnya mulai memerah. Bibirnya ia katupkan.

“Aku berpikir, bagaimana bila Hyoyeon sadar dari kritisnya? Hyoyeon sadar bahwa yang ia butuhkan adalah keberadaan Junho disisinya. Hyoyeon meminta Junho untuk kembali kepadanya karena ia sadar….”

Airmata mulai menetes lagi dari kedua bola mata Yoona yang indah.

“Ia sadar bahwa ia mencintain Junho dan begitu juga dengan Junho.” Yoona menutup mukanya.

“Junho kembali pada Hyoyeon, dan meninggalkanku..”

“Meninggalkanku sendirian dengan cinta yang pernah ia toreskan di hatiku. Aku ga bisa menerima ini. Aku gak mau Junho meninggalkanku.. Aku gak mau..”

Hatiku sakit melihat kenyataan ini. Perasaanku semakin sesak dan aku tidak kuat menahan semua ini. Aku menarik Yoona dengan kuat dan tanpa tersadar aku mencoretkan sebuah kesalahan yang besar dalam hubungan persahabatan ini. Aku mengunci mulutnya dengan sebuah kecupan.

PLAAAAK!!

Yoona menampar wajahku dengan sangat kencang. Aku melihat mukanya yang merah penuh dengan kemarahan dan rasa malu. Aku memegang lengannya dengan kencang.

“Aku muak Yoona! Aku muak dengan semua ini! Melihatmu bersama pria lain selainku, hatiku sakit! Hatiku sesak! Apalagi melihatmu disakiti oleh Junho. Airmatamu lebih banyak habis dibanding ketika kamu melepas kepergianku dari Ulsan ke Seoul dulu. Aku muak akan perasaan ini!”

Yoona tidak bisa berkata-kata. Aku tahu, ia pasti terkejut mengetahui perasaanku yang tiba-tiba ini. Yoona berusaha melepas genggaman tanganku tapi ia tidak mampu karena aku terlalu kuat menggenggamnya.

“Chansung..! Lepasin!”

“Denger dulu perkataanku,Yoona! I’m maybe your best friend, tapi kamu tidak bisa mengelak pernyataanku ini. Perasaanku yang sudah lama kupendam terhadapmu. Bahkan keberadaan Minjae pun tidak bisa menggantikanmu di hatiku, sampai akhirnya.. Kami putus.”

Yoona tidak lagi memberontak,”Putus?”

Aku menangguk,”Ya. Bulan lalu. Aku menyadari perasaanku terhadapmu lebih banyak ditimbang ke Minjae walau kami sudah bersama selama setahun.”

Yoona menatapku. Kami berdua sama-sama terdiam. Melihatnya menunduk seperti itu, aku ingin sekali memeluknya ke dalam dekapanku. Baru saja aku mau melangkah maju, tiba-tiba ada yang menghampiri kami.

“Chansung… Yoona?”

[Junho Part]

Hal yang kulihat di depan mataku sungguh hal yang tidak pernah kuharapkan terjadi, terlebih saat ini, saat dimana aku menyadari bahwa Yoona jauh lebih berharga daripada Hyoyeon. Tadi memang aku panic begitu mendengar Hyoyeon kritis sehingga langsung meninggalkan Yoona. Namun, diperjalanan ke rumah sakit, yang selalu muncul dipikiranku adalah Yoona. Senyum Yoona,tangisan Yoona, suara Yoona yang terngiang-ngiang ditelingaku. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke restoran itu dan menitipkan keadaan Hyoyeon kepada Minho. Aku malah lebih kuatir jika kehilangan Yoona dibanding Hyoyeon, mungkin karena sekarang seluruh hatiku telah dipenuhi oleh Yoona.  Sesampainya di restaurant, aku tidak menemukan Yoona disana. Aku berusaha menghubunginya, tapi Yoona tidak mau menangkat teleponku. Mungkin ia masih marah padaku, itu pikirku. Aku mencari Yoona kemana-mana namun tidak menemukannya, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi apartemennya.

Sesampainya di dekat apartemen Yoona, aku melihat mobil Chansung disana dimana Yoona dan Chansung berdiri didepannya. Aku keluar dari mobil, berusaha menghentikan pembicaraan mereka, apapun yang sedang dibicarakan. Tapi sungguh pahit bagiku melihat pemandangan yang tiba-tiba itu. Walau dari kejauhan, aku melihat dengan sangat jelas bahwa Chansung tiba-tiba mencium Yoona, bibir ke bibir. Suatu hal yang sangat tidak kuharapkan.

Baru saja aku mau berlari untuk menonjok Chansung, tapi Yoona sudah terlebih dahulu menamparnya, dan itu suatu kelegaan bagiku. Aku mendekati mereka perlahan.

“Chansung… Yoona?” sapaku tiba-tiba.

Keduanya terlihat kaget dan tersentak dengan kehadiranku. Mereka berdua menoleh kearah ku dan mendapati aku berdiri disana dengan tatapan yang mencurigai. Yoona langsung melepaskan genggaman tangan Chansung dan berlari ke arahku. Aku sangat lega ketika melihat Yoona berlari kearahku walau dengan tangisan, tapi aku bisa melihat, ada senyuman dibalik tangisannya itu. Aku menyambut Yoona dan memeluknya, “Yoona, sorry. Aku gak seharusnya meninggalkanmu disana.”

Aku merasakan Yoona menangguk di dalam pelukanku. Aku menangkat muka Yoona yang terlihat bahagia karena kedatanganku. Aku tersenyum bahagia juga karena ia lebih memilihku di depan Chansung. Aku benar-benar lega. Aku mengajaknya masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.

Chansung membuang mukanya dari hadapanku ketika aku melewatinya. Chansung merupakan orang yang paling dekat denganku, mengapa ia bisa menjadi seperti Minho, mengkhianatiku. Aku berdiri disamping Chansung.

“Terima kasih sudah mengantarkannya pulang dan menemaninya ketika aku pergi.” Ucapku

Chansung masih membuang mukanya.

“Aku salah meninggalkannya, tapi ini yang terakhir kalinya kulakukan. Dan mulai besok, kamu tidak perlu menghubunginya. Tidak usah berharap banyak pada Yoona. Hatinya sudah milikku sepenuhnya. Jangan pikir, dengan ciumanmu barusan, ia akan berpaling padamu.”

Chansung melirik ke arahku dengan sinis. Alisnya naik, pertanda ia tidak menyukai ucapanku barusan. Mungkin Chansung kaget aku melihat mereka tadi. Aku menepuk pundaknya, lalu masuk ke dalam apartemen. Mulai saat ini, aku harus menjaga Yoona baik-baik. Keberadaan Chansung benar-benar membahayakan hubungan kami.

***********

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s