TRIANGLE LOVES – [BAB 1]

BAB 1 – INTRODUCTION

[Yoona POV]

“Chansung – ah ?”

“Mmm….”

Chansung tetap berdiri dengan tegak di dapur aPARTemennya , tidak sedikitpun bereaksi dengan permohonanku barusan. Walaupun aku berteriak-teriak daritadi, tetap saja Chansung berada di posisinya – menyiapkan bahan masakan untuk makan siangnya dan teman-temannya. Sudah tiga kali aku memohon kepadanya untuk mengabulkan permintaanku yang sama sekali tidak susah (kalau menurutku), tapi Chansung, sahabatku dari kecil, tidak menanggapi dengan baik apa yang aku mau. Jika sudah seperti ini, selalu jalan keluarnya adalah dengan satu cara.

“Sepertinya kamu sibuk sekali, lebih baik aku pulang saja, tidak ada gunanya juga aku disini.” Aku pun beranjak meninggalkannya walaupun aku tahu pasti bahwa Channie, panggilanku dari kecil padanya, akan langsung memanggilku kembali dan tidak membiarkanku pulang.

5..4..3..2..1 .

“Yoona…” Channie menarik tanganku. Betulkan yang aku bilang?

Aku membalikkan badanku tanpa memberikan senyuman sedikitpun, supaya ia merasa bersalah karena tidak menjawab permohonanku sedikitpun.

“Iya, nanti kalau Junho pulang, langsung aku kenalin.” Ucap Channie menyerah, tidak menatap mataku sedikitpun.

Aku pun tersenyum lalu menaruh tasku kembali ke dalam kamarnya yang tepat di sebelah ruang dapur. Channie tersenyum kepadaku lalu mengelus kepalaku seperti biasanya, “Kamu tuh ya, gak berubah dari dulu. Selalu saja pura-pura ngambek kalau gak diturutin kemauannya..”

“Kamu juga ga berubah dari dulu. Udah tahu aku Cuma ngambek, tapi masih aja diturutin kemauanku.”

Channie tertawa dan mencubit pipiku dengan gemas,”Selalu aja bisa cari alasan balik. Dasar perempuan!”

Aku tersenyum sambil kembali membantunya untuk menyiapkan makan siang. Semenjak kami dewasa dan tinggal terpisah dari orangtua , sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama seperti ini. Selain jadwal kami yang sama-sama sibuknya, tapi juga karena kami tinggal berjauhan sekarang. Dulu, rumah kami bersebelahan. Aku ingat sekali hari-hari dimana kami menghabiskan waktu bermain bersama setiap sore. Selalu Chansung yang mengalah kepadaku dan mengikuti kemauanku untuk bermain “rumah tangga” , permainan dimana aku berperan sebagai seorang isteri dan ia sebagai suami. Chansung selalu mengatakan ia ingin ketika dewasa nanti, aku bisa benar-benar menjadi isteri nya tanpa harus bermain-main seperti itu. Well, it’s just words came out from child, we cant trust it, huh?  Saat ini pun, Chansung tidak memenuhi perkataannya itu. Buktinya adalah ia telah memiliki pacar- Min Jae namanya, yang sangat posesif dan manja . To be honest, aku agak tidak suka dengan pacarnya itu. Min Jae selalu marah jika aku menghabiskan waktu dengan Chansung. Aneh sekali, padahal aku kan Cuma sahabatnya Chansung. Entah kenapa Chansung bisa dengan sabar menjalin hubungan dengannya selama setahun. Tidak ada alasa juga bagiku untuk melarang Chansung berpacaran dengan Min Jae , asal ia bahagia, aku turut senang.

~…Triiinggg Triiinggg Triiiingg La La La…~

“Ah, HP ku ! Pasti Min Jae…” Chansung berlari ke kamarnya, mengambil HPnya dan kembali berdiri disampingku.

“Hey Baby.. What are you doing?”

Aku berhenti memotong sayuran karena menahan tawaku dengan kedua mulut. Seumur hidup, baru kali ini aku mendengar Chansung bersikap seperti itu. Lembut sekali dan sangat romantis, jauh dari apa yang selama ini ia lakukan padaku.

“Sibuk? Ga bisa ketemu?”

Kulihat mimic muka Chansung yang tadi bahagia tiba-tiba berubah menjadi dingin. Chansung menggaruk-garuk kepalanya , pertanda ia sedang mencari cara supaya bisa meluluhkan hati Min Jae agar bisa bertemu.

“Hemm… Kalau aku tunggu sampai jadual mu selesai lalu aku jemput kamu, bagaimana?”

Wow.. Since when he becomes a romantic man like this? Is he the same Chansung ?

Chansung tiba-tiba tersenyum bahagia,”It’s Friday night,Baby. I am off from my schedule. You know you can have me all night long if you ask to. Just call me when you finish doing your task. Can’t wait to see you.”

Chansung menyelesaikan percakapannya, memasukkan HP nya ke dalam saku celana training hitamnya, yang sepertinya sudah berapa hari tidak pernah dicuci (FYI, sahabatku ini paling malas “mencuci”). Chansung melihat ke arahku yang hanya tertawa daritadi , “Kenapa kamu? Daritadi ketawa-ketawa?”

“Lucu aja.” Aku memasukkan bahan-bahan yang telah kupersiapkan ke dalam sebuah panci besar, mencoba memasak sup jagung dengan porsi untuk tujuh orang.

“Lucu kenapa?”

“Belum pernah aku dengar kamu berbicara ‘semanis’ itu. Sama aku aja yang udah kenal hampir tujuh belas tahun, gak pernah kamu ngomong semanis itu. Sejak kapan kamu berubah?” tanyaku penasaran.

“Sejak pacaran doooong! Makanya kamu pacaran juga, biar bisa berubah jadi romantis, jangan galak dan ngambek aja bisanya. Udah umur dua puluh dua tahun , cantik, tapi masih single. Aneh..” jawab Chansung dengan bangga, sembari ia mengecek nasi yang ia masak menggunakan rice cooker.

“Kan aku baru aja pacaran awal tahun kemarin,Chan.. Baru juga nge-jomblo, empat bulan. Siapa suruh kamu menghajar mantanku waktu itu?”

“Ya iyalah! Dia itu brengsek. Gak pantas buatmu!”

“Ah, tahu darimana kamu? Jangan menghakimi, Chan.”

“Come On, Yoona! Kamu juga pergokin dia sedang berduaan dengan cewek di kamar aPARTemennya kan?”

“Iya, tapi bisa saja kan dia lagi ngapain gitu..”

“Ngapain gimana maksudmu? Hey, listen to me. I’m a man too. Aku tahu betul ciri-ciri cowok yang selingkuh. Udahlah lupain aja dia. Gak usah diinget lagi.” Chansung membereskan peralatan memasak dimana aku hanya bisa menyender ke dinding, teringat kembali akan mantanku yang memang selingkuh di depan mataku beberapa kali.

Ting Tong..

Kami berdua memandang ke arah pintu. Dengan sigap, aku segera berlari ke pintu depan,dan membukakannya. Pandangan mataku bertemu dengan nya, seorang yang berada di depan pintu. Dengan tersenyum manis, orang yang memakai jaket kulit coklat muda yang dipadu dengan celana jeans hitam dan sepatu skets putih, menyapaku,”Hei.. Ini kamar 403a kan?”

Aku masih menatapnya tanpa memberi jawaban sedikitpun. Masih menatapi ketampanannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Senyumnya begitu manis. Jika ia tersenyum, matanya jadi sipit dan itu yang membuatnya terlihat semakin unik.

“Aaah.. Junho!” Chansung menyapa dari belakang, membuatku tersadar akan kebodohanku barusan.

Junho memeluk Chansung lalu masuk ke dalam sambil membawa koper dan tas ransel nya.

“Kata Junsu-hyung, kamu besok malam? Tapi kok malah hari ini? Padahal baru aja kamu pergi kemarin. Dan sekarang masih jam….” Chansung melihat jam dinding, “11 siang. Kok udah sampai?”

Junho meletakkan barang-barangnya ke dalam kamarnya, lalu keluar ke ruang tamu menghampiri aku dan Chansung,”Ternyata aku dapet tiket pesawat pagi. Jadi aku balik cepat saja. Lagian gak ada gunanya aku berada di Busan lama-lama.”

Chansung (dan aku) mengikuti Junho yang duduk di sofa.

“Gak ada guna nya? Bukannya kamu menemui Hyoyeon?”

Junho tersenyum pahit, ia melipat tangannya di depan dadanya. Melirik ke arah Chansung lalu menggeleng,”It’s over, dudes.”

“Wow, how come? What’s happen?”

“Yeah.. Kamu tahu kan, kami sudah dua bulan ini berantem terus. Aku coba untuk mengerti segala keinginannya, tapi dia selalu gak pernah mau mengerti keadaanku. Selalu dan selalu dia yang minta aku menemuinya, padahal  kamu tahu sendiri jadwal kita padat akhir-akhir ini. Dan dia akan ngambek plus marah kalau aku gak menemuinya. Agak sulit menyatukan pola pikirnya yang seperti anak-anak itu, walau ia lebih tua setahun setengah daripadaku. Kemarin aku kesana karena aku juga udah capek berantem sama dia. Dan ternyata…”

Junho menutup mukanya dengan kedua tangannya lalu menghela napas panjang, “Ketika aku sampai di rumahnya, dia malah sedang asik bermesraan dengan Minho, bahkan ketika aku datang dan orangtuanya menanyaiku, dia malah bilang aku temannya dan Minho calon suaminya.”

“Minho? Sahabatmu dari SMP itu?”

Junho mengangguk,”Itulah mengapa aku langsung cari tiket pulang, terlalu sakit menerima kenyataan, setelah apa yang aku korbankan padanya selama 3 bulan aku menjalin hubungan dengannya.”

Chansung menepuk-nepuk punggung Junho, berusaha menenangkannya dan member kekuatan. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan disitu, hanya bisa terdiam melihat kesedihan orang yang aku kagumi. Ternyata Junho juga mengalami hal yang sama dengan yang aku alami : pengkhianatan.

“Oh iya, mana yang lain?” Junho baru tersadar bahwa aPARTemen mereka sangat sepi.

“Khun lagi balik ke Thailand, Junsu-Wooyoung-Taecyon lagi ada schedule on air radio.”

“Loh, kamu ga ikut schedule?”

Chansung menggeleng,”Aku demam dari semalam. Ini baru agak baikan, makanya ada Yoona disini.”

“Yoona…?” Tanya Junho kebingungan.

Chansung menepuk dahinya,”Astaga, aku lupa! Kenalin ini Yoona, sahabatku dari kecil. Kami udah berteman selama 17 tahun, karena dulu rumah kami sebelahan.”

“Halo..” sapaku sambil memberikan tanganku.

Junho tersenyum (dan itu sangat manis menurutku),menyambut uluran tanganku ,”Halo. Makasih udah merawat Chansung ya.”

Aku mengangguk malu dan Chansung hanya bisa tertawa melihat sikapku yang malu-malu. Melihat aku yang bersikap seperti itu dan mengingat permintaanku yang merengek dikenalkan pada idamanku,Junho, Chansung pun meninggalkan kami berdua,” Aku mau mandi dulu ya. Mau istirahat juga, nanti malem mau ada acara sama Min Jae.”

“Hemmm… Kalau schedule gak bisa tapi pacaran bisa ya?” sindir Junho.

“Anything for my girl, Junho.”

Junho melemparnya dengan bantal kursi yang ditangkap dengan sigap oleh Chansung.

“Oh iya, tadi Yoona masak tuh, kalau kamu laper, makan aja duluan,Ho.”

Junho menaikkan alisnya lalu segera memandang ke arahku,”Wah, kamu bisa masak?”

“Sedikit, tadi dibantuin Chansung juga kok.”

“Kebetulan aku laper banget daritadi belum makan. Ayo, temani aku makan!” Junho berdiri dari sofa dan menarik tanganku ke meja makan.

Junho sangat senang melihat makanan yang sudah jadi di atas meja, dengan cepat ia mengambil mangkuk dan memilih makanan yang akan dimakannya. Aku sangat senang ketika ia memakan dengan lahap dan mengatakan bahwa masakanku sangat enak. Selesai makan, aku membantunya membereskan peralatan makannya lalu kami kembali duduk di ruang tamu.

Junho sangat friendly, dan itu membuatku semakin menyukainya. Ternyata selain tampan, dia baik, dan juga lucu. Walaupun aku tahu, ia masih sedih akan kejadian di Busan, tapi ia berusaha menutupi  dan membuatku tertawa. Padahal seharusnya aku yang membuatnya tertawa ya?

“Ehm.. Junho oppa.”

“Ya?”

“Semangat ya! Jangan sedih lagi!” ucapku tersenyum.

Junho terdiam beberapa saat, baru akhirnya mengerti apa yang aku maksud, ia pun tersenyum padaku,”Iya, aku sedang berusaha kok melupakan semuanya, walau berat.”

“Junho oppa, pasti bisa, aku juga pernah merasakannya kok, tapi Chansung terus menyemangati aku dan mengingatkanku bahwa diluar sana masih banyak pria lain yang lebih baik dan lebih pantas untuk mendampingiku dan lebih pantas untuk melihat senyumanku. Jadi jangan membuang waktu untuk menukar senyumanku dengan tangisan kepada satu orang pria.”

“Wow. Chansung bilang seperti itu?”

Aku  mengangguk,”Junho oppa juga harus begitu. Walaupun disakiti, ingin menangis rasanya, tapi diluar sana masih banyak wanita lain yang lebih pantas untuk melihat senyum manis oppa. Oh ya, dengan tersenyum, membuat diri kita semakin percaya diri, dan merelakan apa yang telah terjadi.Jadi,Junho oppa harus tersenyum!”

Junho tertawa melihatku yang begitu semangat. Namun, ia kembali terdiam ,”Tapi orang yang udah membuatku tersenyum itu, udah ga ada..”

“Ya… Cari yang baru yang bisa menyemangati donk.”

“Oh gitu..”

“Iya begitu..”

Junho melirik ke arahku, menatap kedua bola mataku, sangat lama. Tanganku mulai berkeringat tanda aku gugup ditatap laki-laki yang aku sukai. Tiba-tiba ia tersenyum, mengambil HP nya dari atas meja dan menanyakan nomor HPku.

Sesaat setelah itu, HP ku bergetar. Kuambil HPku dari saku celanaku, dan kulihat ada sebuah pesan masuk tertera di layar.

From : 0104139xxxx

Kalau begitu, kamu mau jadi penyemangat dan sumber senyumanku yang baru ?

Aku terdiam beberapa saat, berpikir siapa pengirimnya. Kenapa tiba-tiba ada sms masuk seperti ini. Setelah diam sekitar lima menit, Junho tiba-tiba tertawa kecil,”Itu aku yang sms.”

Aku langsung melihat ke arahnya dan tersipu malu. Malu karena tertangkap aku berpikir siapa pengirim sms ini dengan mimic yang begitu serius, dan tersipu karena baru berkenalan beberapa jam, tiba-tiba Junho, pria yang kukagumi dari dulu, dari semenjak Chansung bergabung dengan grup band  ini, menanyakan hal yang kurasa ingin diterima dari semua wanita yang mengaguminya.

“Aku gak minta kamu , sekarang ini, untuk menjadi pengganti Hyoyeon atau dengan kata lain menjadi pacarku. Aku hanya ingin kamu bisa menjadi penyemangatku. Karena jujur, selama dua bulan kemarin, ketika aku bermasalah dengan Hyoyeon, tidak ada satupun yang bisa membuatku tertawa lepas seperti ini, bahkan Wooyoung pun tidak bisa. Tapi, baru beberapa jam bertemu denganmu… Aku bahkan tidak ingat sedang lagi dalam kesedihan.”

Baru aku mau menjawab, tiba-tiba Junho melanjutkan kalimatnya,”Kita gak perlu langsung pacaran. Toh kita juga baru kenal. Kita jalani saja semuanya, tapi mungkin kalau boleh jujur, aku akan memberikan perhatian yang lebih sedikit padamu. Namun itu bukan berarti kita harus pacaran nantinya. Kalau memang kita cocok, ya kenapa tidak ? Tapi kalau setelah dijalani, kita tidak cocok, ya kenapa juga harus dipaksa. Intinya , aku ingin mencoba mengenal Yoona lebih lagi mulai dari sekarang.Asal kamu tidak keberatan..”

[Chansung POV]

Aku mendengar itu semua dari balik pintu kamarnya. Aku melihat tatapan serius Junho, tatapan yang sama ketika ia berbicara jujur dengan anggota yang lainnya pada saat ia berpacaran dengan Hyoyeon. Ini berarti Junho tidak main-main  dengan perkataannya. Aku kenal betul dengan Junho, sudah empat tahu kami tinggal bersama, jadi aku tahu betul kapan perkataan Junho termasuk lelucon dan kapan yang termasuk serius. Untuk perkataan barusan sudah bisa dikategorikan yang serius.

Aku melihat suasana menegangkan diluar sana tapi juga diikuti suasana romantisme. Yoona masih terlihat berpikir dan mengajukan beberapa pertanyaan sampai akhirnya kulihat  Yoona mengangguk dan tersenyum dengan manisnya,

Seharusnya aku senang melihat impian Yoona tercapai. Aku ingat betul ketika pertama kali aku dan yang lain muncul di acara televise, Yoona langsung meng-SMS-ku , menanyakan mengenai Junho. Setiap kami habis tampil, ia selalu menitipkan salam pada Junho, tapi sayangnya aku tidak pernah menyampaikannya, entah kenapa. Tadi ketika ia merengek minta dikenalkan pada Junho, akupun merasa berat hati untuk melakukannya, itulah mengapa aku tidak menggubris permintaannya.

Aneh. Bukankah seorang sahabat seharusnya senang ketika sahabatnya mendapatkan kebahagiaan ? Jika ini menjadi kebahagiaan Yoona, lalu mengapa sekarang ketika melihat keduanya saling berbagi senyuman satu sama lain, hatiku seperti sesak ? Hatiku seperti ada yang menusuk dan jujur itu sakit sekali hingga aku harus menutup pintu kamarku.

Kenapa tiba-tiba aku merasa tidak rela jika Yoona dekat dengan Junho? Junho bukanlah seoarng yang jahat, aku tahu betul itu. Junho bahkan begitu baik dan perhatian kepada kami semua, walaupun ia termasuk kedua yang paling muda diantara kelima anggota lainnya. Junho bahkan jarang sekali marah walaupun kami suka mengusilinya atau suka lupa akan jadual kami. Junho merupakan criteria yang cocok untuk Yoona. Tapi memikirkan itu semua, lagi-lagi hatiku sakit. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya kurasakan?

[Junho POV]

Siang yang sangat cerah tapi terasa begitu kelabu bagiku. Seharusnya aku masih menikmati kebersamaanku dengan Hyoyeon, mantan kekasihku yang pertama. Percuma aku datang kemarin untuk menemuinya, melepas segala kerinduanku padanya karena sudah tiga bulan kami terpisah. Semua terasa sia-sia pada akhirnya. Ketulusan cintaku dinodai begitu saja dengan alasan yang tidak masuk akalku sama sekali.

                “Kita memang tidak cocok dari awal Junho. Kamu sibuk sekali dengan segala jadualmu dengan yang lain. Kamu tidak mengerti keinginanku itulah mengapa kita selalu bertengkar.”

                “You really treated me like a fool,Hyoyeon. Tidakkah kamu lihat pengorbananku saat ini? I leave all of my schedule coz I really wanna spend my weekend with you. “

                “Sudahlah Junho. I don’t believe in you anymore. It’s better for you to go home. I don’t need you anymore. Minho is so much better than you. Face it!”

                Seharusnya aku percaya apa yang dikatakan Khun-hyung waktu pertama kali aku bertemu dengan Hyoyeon. Padahal Khun-hyun telah dengan jelas berkata bahwa Hyoyeon hanya menggunakanku untuk dekat dengan Minho , sahabatku. Ditambah lagi, WooYoung juga telah memberikan bukti kedekatan Hyoyeon dan Minho , setelah aku dan Hyoyeon berpacaran. Wooyoung telah beberapa kali memergoki mereka pergi berduaan namun selalu aku tidak pernah percaya dengan mereka.

Ahh.. Kenapa aku keras kepala sekali waktu itu?

Sedikit malu aku saat ini sudah harus berada di depan pintu kamar aPARTemen kami. Mungkin member akan menertawaiku karena hal ini, tapi ini memang kenyataan yang harus kuhadapi. Aku menolehkan kepalaku ke belakang, menghela nafas dengan panjang.

Oke, Lee Junho. Semua sudah berakhir. Tidak ada yang perlu disesali. Kamu pasti menemukan yang terbaik. God will send you His angel soon.

Aku menekan bel yang berada tepat di sebelah pintu kamar. Satu kali, dua kali, tiga kali ia menekan pintu bel, belum ada yang membukakan. Aku mulai mengingat-ingat jadwal member yang lain hari ini. Kalau tidak salah mereka memang ada jadual tapi waktu itu belum pasti kata manajer. Jika mereka memang ada jadual, terpaksa aku menunggu disini sampai mereka pulang. Aku mengeluarkan HP ku, mencoba menghubungi Chansung, anggota member yang paling dekat denganku. Baru saja aku mau memencet nomor teleponnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku memasukkan HPku ke kantong jaketku namun kaget menemukan seorang wanita cantik di depanku. Aku mundur satu langkah, melihat ke arah nomor kamar.

“Hei.. ini kamar 403a kan?” tanyaku sambil tersenyum pada wanita cantik yang belum kukenali itu.

Wanita itu masih diam di depanku. Entah dia tidak mengerti apa yang kubicarakan atau kebingungan melihatku. Entahlah, yang pasti aku bingung kenapa wanita ini ada di dalam kamarku. Kebingunganku lenyap sampai akhirnya orang yang kukenal menyapaku.

“Aahh… Junho!” Chansung muncul dari belakang gadis itu dan memelukku.

Sedikit lega menemukan dia ada disana. Walaupun aku masih bingung mengapa wanita cantik ini ada di dalam kamar aPARTemen kami. Chansung membantuku dalam membawa barang-barangku. Aku memasukkan semua barangku ke kamar, lalu kembali menemui mereka di ruang tamu. Tepat seperti dugaanku, Chansung langsung menanyai kenapa aku pulang dengan cepat, tanpa memperkenalkan siapa wanita cantik yang menarik perhatianku dari awal dia membukakan pintu. Aku pun menjelaskan mengapa aku bisa pulang dengan cepat. Lalu kemudian disambung oleh penjelasan Chansung bahwa yang lain memang sedang ada jadual, namun karena Chansung sakit maka ia tinggal di aPARTemen dan dirawat wanita cantik ini.

Chansung menepuk dahinya,”Astaga, aku lupa! Kenalin ini Yoona, sahabatku dari kecil. Kami udah berteman selama 17 tahun, karena dulu rumah kami sebelahan.”

Yoona menyambut ulutan tanganku dan memberikan senyumnya yang sangat manis menurutku. Rambutnya yang panjang sepinggang dibiarkannya tergurai dengan indah ke depan. Mukanya sangat polos tanpa dandanan , tidak seperti Hyoyeon biasanya yang selalu tampil dengan penuh make-up .

Ooh. Jadi namanya Yoona. Nama yang manis , sama seperti dirinya. Aneh, baru bertemu beberapa menit, kenapa hatiku terasa senang seperti ini. Seolah-olah tidak ada kejadian yang menimpaku dengan Hyoyeon.

Chansung meninggalkan kami berdua. Tenyata Yoona telah memasak untuk kami semua dan masakannya juga sangat enak. Yoona terlihat seperti gadis idaman bagi semua pria. Selain cantik, sopan, ia juga pintar memasak. Kami kembali mengobrol di ruang depan sembari menunggu Chansung keluar dari kamarnya. Di tengah kesunyian ini, tiba-tiba saja Yoona menyemangatiku. Dengan polosnya ia tersenyum dan menyuruhku semangat dalam menjalani kehidupan ini.

Such a sweet girl !

 “Cari yang baru?” tanyaku padanya.

Yoona menangguk,”Iya..”

Melihat senyumnya barusan, entah apa yang muncul di benakku. Aku mengeluarkan HPku dan dengan berani bertanya,”Nomor HP kamu berapa?Boleh tahu kan?”

Yoona terlihat kaget dengan pertanyaanku namun kemudian dia menjawab pertanyaanku. Aku pun langsung mengetikkan sebuah sms untuknya. Yoona melihat ke HPnya, dia pasti sedang membaca smsku, terlihat dari mukanya yang kebingungan. Yoona tidak membalas ataupun bertanya kepadaku, apakah itu sms dariku atau bukan. Sikap Yoona yang diam membuatku jadi penasaran akan perasaannya.

“Itu sms dariku..” terpaksa akhirnya aku yang memberti tahu,padahal aku berharap ia menyadarinya.

Dari mimiknya aku tahu ia sedikit kaget dengan smsku. Aku juga baru menyadari bahwa aku terlalu nekat memberikan sms seperti itu. Kami baru saja bertemu satu jam dan aku sudah menyuguhkan hal aneh seperti itu. Sebelum ia menolak, akhirnya dengan percaya diri aku harus memperjelas semua hal ini. “Kita gak perlu langsung pacaran. Toh kita juga baru kenal. Kita jalani saja semuanya, tapi mungkin kalau boleh jujur, aku akan memberikan perhatian yang lebih sedikit padamu. Namun itu bukan berarti kita harus pacaran nantinya. Kalau memang kita cocok, ya kenapa tidak ? Tapi kalau setelah dijalani, kita tidak cocok, ya kenapa juga harus dipaksa. Intinya , aku ingin mencoba mengenal Yoona lebih lagi mulai dari sekarang.Asal kamu tidak keberatan..”

Yoona masih saja diam, dan jujur inilah yang membuatku kuatir, haruskah aku menerima penolakan sekarang ini. Yoona menutup mukanya dengan tangannya. Kemudian ia tertawa yang membuatku merasa lebih lega dari sebelumnya.

“Kok kamu malah tertawa?”

Yoona menggeleng,”Aku hanya senang.”

“Senang?”

“Ya, senang. Kamu memintaku untuk menjadi penyemangatmu. Wanita mana yang tidak senang dikatakan hal manis seperti itu? Aku hanya takut, kamu akan kecewa kalau mengetahui aku tidak seperti yang kamu harapkan..”

“Maksudmu?”

Yoona menghela nafas. Ia mengubah posisi duduknya, menghadap ke arahku,”Kamu kan mau aku jadi penyemangatmu, tapi aku takut malah nanti aku menjadi penghilang semangatmu…”

Aku kaget mendengarnya. Ternyata Yoona berpikir sampai sejauh itu. Aku tersenyum dan menenangkannya,”Tidak perlu berpikir sejauh itu. Aku senang kalau kamu sudah mau menerima tawaranku. Untuk ke depannya, well.. Kita lihat saja nantinya bagaimana, Ok?”

“Ok, oppa.” Yoona menangguk.

“Oh ya, tolong jangan panggil aku Oppa. Aku merasa sangat tua jadinya.”

“Tapi… menurutku panggilan Oppa itu keren. Walaupun Chansung lebih tua dariku, aku tidak memanggil dia Oppa. Jadi, Oppa itu lebih ke arah……..”

Yoona menutupi wajahnya yang berubah merah. “Lebih ke arah special.”

Aku kaget juga mendengar pernyataan itu. Sebenarnya biasa saja, tapi Yoona mengucapkannya dengan sangat imut,dan aku tidak bisa menolaknya,”Kalau memang artinya itu.. Aku setuju saja.”

“Chansung mana ya?” Yoona melihat jam nya,”Aku sudah harus pulang sekarang.”

“Pulang?” Aku melirik jam tanganku,”Masih jam 3 sore. Masih sangat siang.”

“Iya sih, tapi Chansung juga butuh istirahat kan?”

“Kamu sepertinya perhatian sekali dengan Chansung ya? Aku jadi curiga..”

Yoona tertawa kecil,”Ah..Oppa. Bukan seperti itu. Kami dari kecil sudah bersama, jadi kami saling memperhatikan. Tidak lebih. Aku menganggapnya sudah seperti keluargaku sendiri.”

Aku hanya mengangguk percaya. Semoga saja benar, tidak ada apa-apa.

“Lalu kenapa kamu mencari Chansung?”

“Aku mau pulang…”

“Kamu mau dianter? Biar aku saja yang antar kamu. Kamu sudah ada acara ya?”

Yoona menggeleng,”Gak juga sih. Tadi rencana awalnya, aku mau pergi jalan sama Chansung, tapi karena dia sakit, aku janji menemaninya hari ini. Gak tahunya dia udah ada janji sama MinJae. Jadi tidak ada alasan lagi untukku tetap ada disini kan?”

“Ada kok.”

“Apa?”

“Menemaniku.”

Yoona terdiam. Dari gaya duduknya aku tahu dia sedang menyembunyikan rasa malunya.

“Kamu gak mau ya? Maunya menemani Chansung?”

“Bukan begitu. Aku hanya ingin keluar dari ruangan ini.”

“Kenapa?”

“Coba Oppa lihat keluar, cuaca nya sangat bagus. Masa kita melewatkannya? Bukankah lebih baik kita keluar menikmati cuaca ini?”

“Iya juga sih. Tapi masih jam 3 sore, terlalu pagi untuk memulai kencan di hari Sabtu.”

“Kencan?” Yoona terlihat bingung.

“Iya, Kencan. Dua orang yang terdiri antara pria dan wanita, masih muda belum menikah. Ingin berjalan-jalan berdua, di hari sabtu, biasanya akan disebut seperti itu kan?”

Yoona menangguk sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali menurutku.

“Kalau begitu, aku mau siap-siap dulu, nanti aku antar kamu pulang untuk siap-siap, sehabis itu baru kita pergi. Ya hitung-hitung sekalian untuk mengenal lebih lagi. Bagaimana menurutmu?”

“Setuju!”

-CONTINUE TO BAB 2-

3 thoughts on “TRIANGLE LOVES – [BAB 1]

  1. ihh seru ceritanya🙂🙂

  2. Ahahahahaha,, bagus daebak😄

  3. wow couple yang cocok(y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s